Jawaban singkat
Hanya sejauh yang diberitahukan oleh Allah (﷾), satu-satunya yang mengetahui segala sesuatu. Ajaran Jain berpendapat bahwa hanya orang yang mengetahui segala sesuatu yang melihat seluruh kebenaran. Ajaran itu berkata bahwa Mahavira, Tirthankara (guru) yang terakhir, menjadi orang yang mengetahui seperti itu. Sebuah kitab suci kaum Svetambara, salah satu tradisi Jain yang utama, berkata bahwa ia “mengetahui dan melihat semua keadaan semua makhluk hidup di dunia”. Ajaran Jain tentang aspek-aspek yang beragam, anekantavada, menambahkan bahwa siapa pun yang belum memiliki pengetahuan itu hanya melihat sebagian. Tetapi kaum Jain berpendapat bahwa, di bagian dunia ini, tidak seorang pun mencapai pengetahuan itu pada zaman ini. Mereka bersandar pada kitab-kitab yang menurut kedua tradisi Jain sebagian telah hilang, dan yang tidak mereka miliki bersama. Islam mengajarkan bahwa tidak ada makhluk, bahkan seorang nabi pun, yang mengetahui segala sesuatu. Allah (﷾) mewahyukan Al-Qur'an kepada Nabi Muhammad (ﷺ), yang menyampaikannya, dan Allah (﷾) berjanji untuk memeliharanya.
Penjelasan lengkap
Titik tolak Jain: seseorang yang mengetahui segala sesuatu
Kaum Jain berpendapat bahwa Mahavira, Tirthankara atau Jina yang terakhir, menjadi seorang Kevalin, seorang yang mahatahu. Kalpa Sutra adalah kitab suci kaum Svetambara, salah satu dari dua tradisi Jain yang utama. Kitab itu berkata bahwa ia “mengetahui dan melihat semua keadaan semua makhluk hidup di dunia”. Acaranga, juga dari Svetambara, mengatakan hal yang sama. Kaum Digambara, tradisi utama yang lain, memegang ajaran ini dari kitab-kitab mereka sendiri. Sarjana Jain Padmanabh Jaini menggambarkan pengetahuan ini sebagai kesadaran akan setiap hal yang ada dalam semua sifat dan keadaannya. Ia mengutip sebuah karya Digambara, Tattvarthasara karya Amritacandra. Jadi ajaran Jain berpendapat bahwa seluruh kebenaran itu ada, dan bahwa orang yang mengetahui segala sesuatu melihatnya.
“ia, sang Arhat, yang baginya tidak ada rahasia, mengetahui dan melihat semua keadaan semua makhluk hidup di dunia, apa yang mereka pikirkan, ucapkan, atau lakukan pada saat mana pun.”
“ia melihat dan mengetahui semua keadaan di seluruh dunia semua makhluk hidup.”
Jaini menggambarkan kevala, yang tertinggi dari lima jenis pengetahuan dalam ajaran Jain, sebagai kemahatahuan mutlak, yang mencakup kesadaran akan setiap hal yang ada dalam semua sifat dan modusnya (keadaannya) (hlm. 122). Untuk ini ia mengutip, dalam bahasa Sanskerta, sebuah karya Digambara, Tattvarthasara 1.30-31 karya Amritacandra, yang kata-katanya menggambarkan pengetahuan kevala sebagai tanpa bantuan (asahaya), tanpa halangan (niravarana) dan menjangkau segala sesuatu (sarvabhavaga) (hlm. 122, catatan 43). Ia menjelaskan bahwa kemahatahuan (kevalajnana) adalah keadaan sempurna dari sifat pengetahuan jiwa sendiri (hlm. 91).
Aspek-aspek yang beragam: mengapa pandangan sebagian tidak cukup
Para guru Jain berpendapat bahwa setiap hal mempunyai sifat yang tak terhitung dan keadaan yang berubah-ubah. Jadi orang biasa, yang tidak mahatahu, tidak dapat melihat suatu hal secara utuh. Inilah anekantavada, ajaran tentang aspek-aspek yang beragam. Pandangan sebagian disebut naya, sudut pandang. Naya sah sebagai pandangan sebagian. Naya menjadi salah ketika dianggap sebagai seluruh kebenaran, yang oleh kaum Jain disebut ekanta, berat sebelah. Siddhasena Divakara, yang diklaim oleh kedua tradisi, menulis sebuah risalah tentang hal ini. Syadvada menambahkan kata syat, ‘dalam suatu segi’, pada sebuah pernyataan untuk menunjukkan dalam segi apa pernyataan itu berlaku.
Jaini menjelaskan bahwa, dalam ajaran Jain, setiap hal yang ada adalah zat dengan sifat-sifat, dan sifat-sifat itu melewati modus-modus yang berubah-ubah. Karena sifat-sifatnya tak terhitung dan modus-modusnya tak terbatas, tidak mungkin bagi orang biasa yang tidak mahatahu untuk menangkap suatu hal yang ada secara utuh. Istilah Jain anekanta, aspek-aspek yang beragam, mengungkapkan kerumitan ini (hlm. 91). Kaum Jain mengklaim bahwa sistem-sistem non-Jain cacat karena memandang keberadaan hanya dalam satu aspek (ekanta), misalnya hanya kekal atau hanya berubah (hlm. 91-92). Ajaran-ajaran aliran lain selalu digambarkan salah karena berat sebelah, walaupun kaum Jain berpendapat bahwa dari sudut pandang yang tepat ajaran-ajaran itu dapat dimasukkan ke dalam sistem Jain (hlm. 90).
Jaini menulis bahwa, dalam mengutuk aliran-aliran lain sebagai berat sebelah, penganut Jain tidak mengatakan bahwa pandangan-pandangan mereka sama sekali salah. Pandangan-pandangan itu sah ketika dilihat sebagai naya, ungkapan sebagian kebenaran, dan menjadi salah hanya ketika dianggap memiliki keabsahan mutlak dan eksklusif (hlm. 93). Catatannya mengutip, dalam bahasa Sanskerta, syarah Mallisena dari Svetambara atas bait 28 Anyayogavyavacchedika karya Hemacandra. Kata-katanya mengatakan bahwa ‘ia ada’ (sat) adalah naya, sedangkan ‘ia hanya ada’ (sad eva) adalah durnaya, naya yang keliru, yang mengesampingkan sifat-sifat lain dari benda itu (hlm. 93, catatan 8). Syadvada membatasi suatu pernyataan dengan syat, paling baik diterjemahkan ‘dalam hal tertentu’, dan eva, ‘sesungguhnya’ (hlm. 94).
Jaini menulis bahwa Siddhasena Divakara (abad ke-5), seorang penulis yang sama-sama diklaim kedua tradisi Jain, menulis Sanmati-sutra. Risalah pendek dalam bahasa Prakerta ini berusaha menetapkan bahwa berbagai sudut pandang (naya) sah ketika didekati dengan semangat syadvada, dan tidak sah ketika dikemukakan dengan cara mutlak (ekanta) sistem-sistem non-Jain. Jaini menambahkan bahwa kaum Mimamsaka, pembela Weda dari kalangan Hindu, sangat berkeberatan terhadap klaim Jain bahwa para Jina yang manusia itu mahatahu (hlm. 83).
Bukan ajaran bahwa setiap agama benar
Anekantavada sekarang sering diringkas sebagai ‘setiap pandangan sebagian benar, jadi setiap agama benar’. Para guru Jain klasik memang mengakui bahwa pandangan-pandangan saingan memuat sebagian kebenaran, sebagai pandangan sebagian. Jaini menulis bahwa pandangan-pandangan seperti itu menjadi salah ketika dianggap sebagai seluruh kebenaran. Paul Dundas, seorang sarjana agama Jain, menulis bahwa ajaran itu sebagian tumbuh dari klaim bahwa para Tirthankara mahatahu sepenuhnya. Para ahli logika Jain memakainya untuk menunjukkan bahwa sistem-sistem Hindu dan Buddha berat sebelah. Komentator Svetambara Mallisena menyebut pandangan yang hanya menegaskan satu segi sebagai pandangan yang keliru. Dundas menambahkan bahwa membaca ajaran itu sebagai toleransi terhadap setiap pendapat adalah pembacaan modern. Ia menulis bahwa agama Jain secara konsisten menganggap jalannya sendiri lebih unggul daripada yang lain.
Jaini menulis bahwa, dalam mengutuk aliran-aliran lain sebagai berat sebelah, penganut Jain tidak mengatakan bahwa pandangan-pandangan mereka sama sekali salah. Pandangan-pandangan itu sah ketika dilihat sebagai naya, ungkapan sebagian kebenaran, dan menjadi salah hanya ketika dianggap memiliki keabsahan mutlak dan eksklusif (hlm. 93). Catatannya mengutip, dalam bahasa Sanskerta, syarah Mallisena dari Svetambara atas bait 28 Anyayogavyavacchedika karya Hemacandra. Kata-katanya mengatakan bahwa ‘ia ada’ (sat) adalah naya, sedangkan ‘ia hanya ada’ (sad eva) adalah durnaya, naya yang keliru, yang mengesampingkan sifat-sifat lain dari benda itu (hlm. 93, catatan 8). Syadvada membatasi suatu pernyataan dengan syat, paling baik diterjemahkan ‘dalam hal tertentu’, dan eva, ‘sesungguhnya’ (hlm. 94).
Dundas menulis bahwa ajaran Jain tentang keberagaman sudut (anekantatva) tumbuh dari dua faktor: klaim kemahatahuan penuh bagi para Tirthankara, guru-guru yang meneruskan pemahaman yang benar tentang kenyataan kepada mereka yang belum tercerahkan, dan pandangan bahwa kenyataan mencakup ketetapan dan perubahan sekaligus. Setiap penilaian yang dibuat oleh jiwa yang tidak mahatahu memadai untuk keperluan sehari-hari tetapi pasti cacat. Setiap naya, atau sudut pandang, tidak lengkap dengan sendirinya. Syadvada, ajaran ‘mungkin saja’, bukanlah bentuk skeptisisme bagi para filsuf Jain. Di tangan kaum Jain metode itu menjadi senjata perdebatan, dipakai untuk menunjukkan bahwa sistem-sistem Hindu dan Buddha berat sebelah. Dalam argumen Jain, sistem-sistem semacam itu sungguh-sungguh memuat versi-versi sebagian dari kebenaran, tetapi tidak dapat sepenuhnya memenuhi hakikat dunia yang bersegi banyak. Guru Svetambara Haribhadra menulis salah satu risalahnya yang paling terkenal, dan tidak pernah meninggalkan pembelaannya terhadap keunggulan Jainisme.
Dundas menulis bahwa, pada zaman modern, banyak penganut Jain membaca keberagaman sudut sebagai perluasan antikekerasan menjadi toleransi terhadap pendapat orang lain. Ia menyebut ini salah baca yang bermaksud baik atas ajaran yang tidak dimaksudkan untuk memajukan toleransi agama yang universal. Ia mencatat bahwa agama-agama India sangat kritis terhadap sistem-sistem saingan mereka. Sarjana Digambara Todarmal (abad ke-18) berpendapat bahwa tidak seorang pun dari tradisi agama lain dapat mencapai sikap yang benar (samyaktva) yang diperlukan untuk pembebasan. Sikap Jainisme yang konsisten, tulis Dundas, adalah bahwa pada tingkat yang paling mendalam ia berbeda dari dan lebih unggul daripada jalan-jalan lain.
Bagaimana pengetahuan sang Jina sampai kepada orang-orang sekarang
Jaini menulis bahwa otoritas ajaran Jain bersandar pada kenyataan bahwa ajaran itu diberitakan oleh makhluk yang mahatahu. Tetapi Mahavira, Jina terakhir pada zaman ini di bagian dunia ini, telah melampaui kelahiran kembali dan tidak lagi mengajar. Sebuah kitab suci Svetambara berkata bahwa jiwa-jiwa yang sempurna berdiam di puncak dunia. Kaum Jain berpendapat bahwa dua puluh Jina lain sekarang mengajar, tetapi hanya di wilayah-wilayah yang jauh seperti Mahavideha. Yang paling terkenal di antara mereka adalah Simandhara. Kitab-kitab suci Svetambara menggambarkan kelahiran kembali di Mahavideha dan mencapai kemahatahuan di sana. Tetapi kaum Jain kemudian berpendapat bahwa, sesudah Jambu, murid Mahavira, tidak seorang pun di bagian dunia ini mencapai kemahatahuan pada zaman ini. Jadi kaum Jain di sini mengetahui ajaran sang Jina hanya melalui kitab-kitab yang diwariskan. Kedua tradisi berkata bahwa kitab-kitab yang paling tua di antaranya, keempat belas Purva, telah hilang. Kaum Digambara berpendapat bahwa Anga, kitab-kitab utama, juga telah hilang.
Jaini menulis bahwa otoritas ajaran-ajaran Jain pada akhirnya bersandar pada kenyataan bahwa ajaran-ajaran itu diberitakan oleh makhluk yang mahatahu. Para guru Jain mengklaim bahwa hanya ajaran-ajaran Jina yang dapat bertahan terhadap pemeriksaan akal (hlm. 89).
“Di sana, di puncak dunia, berdiam jiwa-jiwa sempurna yang berbahagia, terbebas dari segala perpindahan kelahiran, dan telah tiba pada keadaan kesempurnaan yang luhur.”
Dundas menulis bahwa, ketika tradisi Jain mulai menerima bahwa pencerahan tidak lagi mungkin di wilayah Bharata (India) sesudah wafatnya murid Mahavira, Jambu, kitab-kitab suci Svetambara mulai menggambarkan kelahiran kembali di wilayah jauh Mahavideha dan mencapai pencerahan di sana. Sebuah kitab suci Svetambara, Uraian Penjelasan-Penjelasan, mengatakan bahwa waktu stabil di Mahavideha, tanpa zaman dunia yang rusak, dan bahwa para pembuat penyeberangan (Tirthankara) berkhotbah di sana. Kaum Jain berpendapat bahwa pada saat ini dua puluh pembuat penyeberangan, ‘yang mengembara’ (viharamana), hidup dan mengajar di wilayah-wilayah jauh Dunia Tengah, bagian alam semesta tempat manusia hidup; empat di antaranya berada di Mahavideha. Yang paling populer adalah Simandhara. Bakti kepadanya tersebar luas di kalangan Svetambara, dan Devasena dari Digambara pada abad ke-10 adalah penulis pertama yang menceritakan bahwa Kundakunda memperoleh pengetahuannya langsung darinya.
Dundas menulis bahwa, sekitar awal era bersama, kaum Jain mengakui bahwa berbagai pencapaian rohani yang tinggi, yang salah satunya adalah pencerahan (kemahatahuan penuh), tidak lagi mungkin dicapai pada zaman ini setelah wafatnya murid Jambu. Praktik keagamaan kemudian bertujuan bukan hanya membakar habis karma tetapi juga, semakin lama semakin banyak, memperoleh pahala untuk kelahiran kembali yang baik (bab 6, halaman pembuka, hlm. 94).
“kita diberi tahu oleh kaum Svetambara, maupun kaum Digambara, bahwa selain Anga, ada karya-karya lain yang mungkin lebih tua, yang disebut Purva, yang semula berjumlah empat belas. Pengetahuan tentang Purva ini berangsur-angsur hilang, sampai akhirnya lenyap sama sekali.”
“kaum Digambara juga telah kehilangan Purva, dan Anga pula”
Jawaban Islam: dari Yang Maha Mengetahui, dipelihara oleh-Nya
Dalam Islam, hanya Allah (﷾) yang mengetahui segala sesuatu. “Dan kunci-kunci semua yang gaib ada pada-Nya; tidak ada yang mengetahuinya selain Dia” (6:59). Tidak ada makhluk yang mengetahui segala sesuatu, bahkan seorang nabi pun. Nabi (ﷺ) disuruh berkata bahwa beliau tidak mengetahui yang gaib (7:188). Allah (﷾) memperlihatkan apa yang dikehendaki-Nya tentang yang gaib kepada “rasul yang diridai-Nya” (72:26-27). Jadi Nabi (ﷺ) mengetahui tentang yang gaib hanya apa yang diajarkan Allah (﷾) kepadanya, dan beliau menyampaikannya. Manusia diberi pengetahuan “hanya sedikit” (17:85). Mereka tidak mengetahui sesuatu apa pun tentang ilmu-Nya “melainkan apa yang Dia kehendaki” (2:255). Allah (﷾) menurunkan Al-Qur'an dan berjanji untuk memeliharanya (15:9). Nabi (ﷺ) telah wafat, tetapi Dia yang memelihara Kitab itu hidup selama-lamanya. Ketika Nabi (ﷺ) wafat, Abu Bakar berkata kepada orang-orang bahwa Allah (﷾) Mahahidup dan tidak akan pernah mati. Seorang Jain yang mencari seluruh kebenaran diajak membaca Al-Qur'an. Ia juga diajak mengenal Nabi terakhir (ﷺ), yang kepadanya Al-Qur'an diwahyukan.
“Dan kunci-kunci semua yang gaib ada pada-Nya; tidak ada yang mengetahuinya selain Dia. Dia mengetahui apa yang ada di darat dan di laut. Tidak ada sehelai daun pun yang gugur yang tidak diketahui-Nya, tidak ada sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak pula sesuatu yang basah atau yang kering, yang tidak tertulis dalam kitab yang nyata (Lauḥ Maḥfūẓ).”
“Katakanlah (Muhammad), “Aku tidak kuasa mendatangkan manfaat maupun menolak mudarat bagi diriku kecuali apa yang dikehendaki Allah. Sekiranya aku mengetahui yang gaib, niscaya aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan tidak akan ditimpa bahaya. Aku hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman.””
“Dia Mengetahui yang gaib, tetapi Dia tidak memperlihatkan kepada siapa pun tentang yang gaib itu. Kecuali kepada rasul yang diridai-Nya, maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di depan dan di belakangnya.”
“Dan mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang roh. Katakanlah, “Roh itu termasuk urusan Tuhanku, sedangkan kamu diberi pengetahuan hanya sedikit.””
“Allah, tidak ada tuhan selain Dia. Yang Mahahidup, Yang terus menerus mengurus (makhluk-Nya), tidak mengantuk dan tidak tidur. Milik-Nya apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Tidak ada yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya tanpa izin-Nya. Dia mengetahui apa yang dihadapan mereka dan apa yang di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui sesuatu apa pun tentang ilmu-Nya melainkan apa yang Dia kehendaki. Kursi-Nya meliputi langit dan bumi. Dan Dia tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Dia Mahatinggi, Mahabesar.”
“Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur`an, dan pasti Kami (pula) yang memeliharanya.”
Aisyah meriwayatkan bahwa ketika Nabi (ﷺ) wafat, Umar bersikeras bahwa beliau tidak wafat. Abu Bakar datang, mencium wajah Nabi, lalu berkata kepada orang-orang bahwa siapa yang menyembah Muhammad, ketahuilah Muhammad telah wafat, dan siapa yang menyembah Allah, ketahuilah Allah Mahahidup dan tidak akan pernah mati. Ia membaca 39:30 dan 3:144, bahwa Muhammad hanyalah seorang rasul, dan orang-orang pun menangis.
| Pertanyaan | Ajaran Jain | Islam |
|---|---|---|
| Siapa yang mengetahui segala sesuatu | Mahavira, seorang yang mahatahu. | Hanya Allah (﷾). Bahkan seorang nabi pun tidak. |
| Adakah orang yang demikian sekarang? | Tidak ada di bagian dunia ini, pada zaman ini. | Manusia hanya diberi sedikit pengetahuan. |
| Bagaimana kebenaran itu sampai kepada kita | Melalui kitab-kitab yang diwariskan. | Diberitahukan kepada seorang rasul yang dipilih Allah (﷾). |
| Kitab-kitabnya | Keempat belas Purva telah hilang. Kaum Digambara berpendapat Anga pun telah hilang. | Allah (﷾) berjanji menjaga Al-Qur'an. |
Sanggahan-sanggahan, dijawab
Al-Qur'an 7:188 — Surah Al-A'raf, ayat 188
“Katakanlah (Muhammad), “Aku tidak kuasa mendatangkan manfaat maupun menolak mudarat bagi diriku kecuali apa yang dikehendaki Allah. Sekiranya aku mengetahui yang gaib, niscaya aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan tidak akan ditimpa bahaya. Aku hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman.””
Dikutip untuk
Ajaran Jain bersandar pada seorang guru yang mengetahui segala sesuatu. Nabi Islam (ﷺ) berkata bahwa beliau tidak mengetahui yang gaib. Jadi ajaran sang Jina berdiri di atas landasan yang lebih kokoh.
Tanggapan
Islam mengajarkan bahwa tidak ada makhluk, bahkan seorang nabi pun, yang mengetahui segala sesuatu. Al-Qur'an berkata bahwa tidak ada sesuatu pun di langit dan di bumi, kecuali Allah (﷾), yang mengetahui perkara yang gaib (27:65). Allah (﷾) memperlihatkan apa yang dikehendaki-Nya tentang yang gaib kepada rasul yang diridai-Nya (72:26-27). Jadi Nabi (ﷺ) mengetahui tentang yang gaib hanya apa yang diajarkan Allah (﷾) kepadanya. Al-Qur'an berkata bahwa beliau tidak berbicara menurut keinginannya: itu adalah “wahyu yang diwahyukan (kepadanya)” (53:3-4). Otoritas Al-Qur'an bersandar pada Yang Maha Mengetahui sendiri, bukan pada pengetahuan seorang manusia mana pun.
Kesimpulannya — Dalam Islam, sumber risalah itu adalah Allah, yang mengetahui segala sesuatu. Nabi (ﷺ) menyampaikannya sebagaimana diwahyukan kepadanya.
Al-Qur'an 2:106 — Surah Al-Baqarah, ayat 106
“Ayat yang Kami batalkan atau Kami hilangkan dari ingatan, pasti Kami ganti dengan yang lebih baik atau yang sebanding dengannya. Tidakkah kamu tahu bahwa Allah Mahakuasa atas segala sesuatu?”
Dikutip untuk
Para pengkritik berkata bahwa Al-Qur'an juga kehilangan ayat-ayat, melalui nasakh (pembatalan), jadi kaum Muslim menghadapi masalah yang sama dengan kaum Jain.
Tanggapan
Dalam 2:106 Allah (﷾) berfirman bahwa ayat mana pun yang Dia batalkan atau Dia hilangkan dari ingatan, Dia ganti dengan yang lebih baik atau yang sebanding. Dalam 87:6-7 Dia berfirman kepada Nabi (ﷺ) bahwa beliau tidak akan lupa, kecuali jika Allah (﷾) menghendaki. Jadi setiap penghapusan adalah perbuatan Allah (﷾) sendiri, yang dinyatakan dalam Kitab itu sendiri. Tradisi-tradisi Jain melaporkan kehilangan di antara para pengikut, sesudah Mahavira wafat. Zaid menuliskan wahyu untuk Nabi (ﷺ), dan Jibril memeriksa Al-Qur'an bersama beliau setiap tahun.
Kesimpulannya — Apa yang dihapus Allah (﷾), Dia hapus semasa hidup Nabi (ﷺ), dengan firman-Nya sendiri. Itu bukan ajaran yang hilang di antara para pengikut sesudah gurunya wafat.
Jaini, The Jaina Path of Purification (1979), hlm. 93-94
Jaini menulis bahwa, dalam mengutuk aliran-aliran lain sebagai berat sebelah, penganut Jain tidak mengatakan bahwa pandangan-pandangan mereka sama sekali salah. Pandangan-pandangan itu sah ketika dilihat sebagai naya, ungkapan sebagian kebenaran, dan menjadi salah hanya ketika dianggap memiliki keabsahan mutlak dan eksklusif (hlm. 93). Catatannya mengutip, dalam bahasa Sanskerta, syarah Mallisena dari Svetambara atas bait 28 Anyayogavyavacchedika karya Hemacandra. Kata-katanya mengatakan bahwa ‘ia ada’ (sat) adalah naya, sedangkan ‘ia hanya ada’ (sad eva) adalah durnaya, naya yang keliru, yang mengesampingkan sifat-sifat lain dari benda itu (hlm. 93, catatan 8). Syadvada membatasi suatu pernyataan dengan syat, paling baik diterjemahkan ‘dalam hal tertentu’, dan eva, ‘sesungguhnya’ (hlm. 94).
Dikutip untuk
Klaim Islam bahwa hanya Islam yang benar justru merupakan sikap berat sebelah (ekanta) yang disebut salah oleh logika Jain.
Tanggapan
Dalam logika Jain, ekanta adalah pandangan sebagian yang dipegang seakan-akan merupakan keseluruhan. Para guru Jain menemukan kesalahan itu dalam sistem-sistem saingan, bukan dalam ajaran sang Jina sendiri. Mereka berpendapat bahwa hanya ajaran sang Jina yang dapat bertahan terhadap pemeriksaan akal. Jadi logika Jain sendiri membolehkan satu ajaran menjadi ajaran yang benar, jika ajaran itu datang dari seseorang yang mengetahui segala sesuatu. Klaim Islam adalah klaim semacam itu: Al-Qur'an datang dari Allah (﷾), yang mengetahui segala sesuatu (6:59). Dan Al-Qur'an mengajak untuk diuji: sebuah kitab yang bukan dari Allah (﷾) akan memuat banyak hal yang bertentangan (4:82).
Kesimpulannya — Mengklaim kebenaran bukanlah ekanta jika klaimnya adalah bahwa firman itu datang dari Dia yang mengetahui segala sesuatu. Pertanyaannya adalah apakah Al-Qur'an adalah firman itu, dan Al-Qur'an mengajak untuk diuji.
Kalpa Sutra §121 — Riwayat Hidup para Jina, §121
“ia, sang Arhat, yang baginya tidak ada rahasia, mengetahui dan melihat semua keadaan semua makhluk hidup di dunia, apa yang mereka pikirkan, ucapkan, atau lakukan pada saat mana pun.”
Dikutip untuk
Pengetahuan sang Jina sampai kepada kita melalui murid-muridnya dan guru-guru yang datang sesudah mereka.
Tanggapan
Melalui kitab-kitab yang mana? Kedua tradisi berkata bahwa keempat belas Purva telah hilang. Kaum Digambara berpendapat bahwa Anga juga telah hilang. Mereka tidak mengakui bahwa Anga Svetambara bertahan dalam bentuk yang asli. Keduanya menerima Tattvartha Sutra karya Umasvati, tetapi itu adalah ringkasan seorang guru. Ringkasan bersama bukanlah catatan bersama atas sabda-sabda sang Jina. Pengetahuan yang dahulu utuh hanya sepasti catatan yang membawanya.
Kesimpulannya — Pengetahuan sang Jina sampai kepada kaum Jain sekarang melalui kanon-kanon yang sebagian telah hilang dan yang tidak dimiliki bersama oleh kedua tradisi.
Dundas, The Jains (2002), bab 6
Dundas menulis bahwa, sekitar awal era bersama, kaum Jain mengakui bahwa berbagai pencapaian rohani yang tinggi, yang salah satunya adalah pencerahan (kemahatahuan penuh), tidak lagi mungkin dicapai pada zaman ini setelah wafatnya murid Jambu. Praktik keagamaan kemudian bertujuan bukan hanya membakar habis karma tetapi juga, semakin lama semakin banyak, memperoleh pahala untuk kelahiran kembali yang baik (bab 6, halaman pembuka, hlm. 94).
Dikutip untuk
Seorang Jain tidak memerlukan rasul. Setiap jiwa dapat mencapai kemahatahuan dengan usahanya sendiri, dan Jina-Jina yang hidup seperti Simandhara mengajar bahkan sekarang di Mahavideha.
Tanggapan
Kaum Jain kemudian berpendapat bahwa, sesudah Jambu, murid Mahavira, tidak seorang pun di bagian dunia ini mencapai kemahatahuan pada zaman ini. Dalam kepercayaan Jain, Jina-Jina yang hidup hanya mengajar di wilayah-wilayah yang jauh, dan seorang Jain dapat berharap dilahirkan kembali di sana. Jadi setiap orang Jain yang hidup di sini bergantung pada ajaran yang diwariskan, dan kedua tradisi berkata bahwa kitab-kitab itu sebagian telah hilang. Al-Qur'an ada di tangan siapa pun sekarang, dan Allah (﷾) memeliharanya (15:9).
Kesimpulannya — Tidak seorang Jain pun di sini mendengar seorang Jina yang hidup atau melihat seluruh kebenaran tanpa bantuan. Al-Qur'an dapat dibaca sekarang, dan sumbernya adalah Dia yang mengetahui segala sesuatu.
Jaini, The Jaina Path of Purification (1979), hlm. 93-94
Jaini menulis bahwa, dalam mengutuk aliran-aliran lain sebagai berat sebelah, penganut Jain tidak mengatakan bahwa pandangan-pandangan mereka sama sekali salah. Pandangan-pandangan itu sah ketika dilihat sebagai naya, ungkapan sebagian kebenaran, dan menjadi salah hanya ketika dianggap memiliki keabsahan mutlak dan eksklusif (hlm. 93). Catatannya mengutip, dalam bahasa Sanskerta, syarah Mallisena dari Svetambara atas bait 28 Anyayogavyavacchedika karya Hemacandra. Kata-katanya mengatakan bahwa ‘ia ada’ (sat) adalah naya, sedangkan ‘ia hanya ada’ (sad eva) adalah durnaya, naya yang keliru, yang mengesampingkan sifat-sifat lain dari benda itu (hlm. 93, catatan 8). Syadvada membatasi suatu pernyataan dengan syat, paling baik diterjemahkan ‘dalam hal tertentu’, dan eva, ‘sesungguhnya’ (hlm. 94).
Dikutip untuk
Setiap pandangan sebagian benar, jadi setiap agama memuat sebagian kebenaran. Tidak seorang pun perlu memilih di antaranya.
Tanggapan
Para guru Jain memang berkata bahwa pandangan-pandangan saingan memuat sebagian kebenaran, sebagai pandangan sebagian. Tetapi mereka menyebut masing-masing salah ketika dianggap sebagai seluruh kebenaran. Mereka memakai ajaran itu untuk menunjukkan bahwa sistem-sistem saingan berat sebelah, dan mereka menganggap jalan mereka sendiri lebih unggul. Semboyan itu juga meruntuhkan dirinya sendiri: jika setiap pandangan hanya sebagian benar, begitu pula pandangan itu.
Kesimpulannya — Logika Jain menilai setiap pandangan terhadap seluruh kebenaran. Logika itu tidak menjadikan setiap agama benar.
Dundas, The Jains (2002), bab 8, Ajaran keberagaman sudut
Dundas menulis bahwa, pada zaman modern, banyak penganut Jain membaca keberagaman sudut sebagai perluasan antikekerasan menjadi toleransi terhadap pendapat orang lain. Ia menyebut ini salah baca yang bermaksud baik atas ajaran yang tidak dimaksudkan untuk memajukan toleransi agama yang universal. Ia mencatat bahwa agama-agama India sangat kritis terhadap sistem-sistem saingan mereka. Sarjana Digambara Todarmal (abad ke-18) berpendapat bahwa tidak seorang pun dari tradisi agama lain dapat mencapai sikap yang benar (samyaktva) yang diperlukan untuk pembebasan. Sikap Jainisme yang konsisten, tulis Dundas, adalah bahwa pada tingkat yang paling mendalam ia berbeda dari dan lebih unggul daripada jalan-jalan lain.
Dikutip untuk
Anekantavada mengajarkan kerendahan hati dan toleransi. Islam mengklaim memiliki satu-satunya kebenaran, jadi Islam tidak toleran.
Tanggapan
Mengklaim kebenaran tidak sama dengan memaksakannya. Al-Qur'an berkata: “Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama (Islam)” (2:256). Dundas mencatat bahwa para guru Jain klasik menganggap jalan mereka sendiri lebih unggul daripada yang lain. Ia juga mencatat bahwa membaca anekantavada sebagai toleransi terhadap setiap pendapat adalah pembacaan modern.
Kesimpulannya — Setiap ajaran yang sungguh-sungguh mengklaim dirinya benar. Islam mengajukan klaimnya secara terbuka. Kaum Muslim boleh meyakinkan, tetapi tidak boleh memaksa siapa pun menjadi Muslim.
Al-Qur'an 17:85 — Surah Al-Isra', ayat 85
“Dan mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang roh. Katakanlah, “Roh itu termasuk urusan Tuhanku, sedangkan kamu diberi pengetahuan hanya sedikit.””
Dikutip untuk
Al-Qur'an sendiri berkata bahwa manusia hanya mengetahui sedikit. Jadi pandangan seorang Muslim juga sebagian, dan tidak dapat mengklaim seluruh kebenaran.
Tanggapan
Al-Qur'an memang berkata demikian. Tidak seorang Muslim pun mengklaim mengetahui segala sesuatu. Itulah sebabnya seorang Muslim tidak bersandar pada pandangan sebagian miliknya sendiri. Ia bersandar pada apa yang diturunkan oleh Dia yang mengetahui segala sesuatu (6:59; 72:26-27). Allah (﷾) berfirman bahwa Dia telah menyempurnakan agama itu (5:3), dan Dia memelihara Kitab itu (15:9).
Kesimpulannya — Tidak seorang Muslim pun mengetahui segala sesuatu. Seorang Muslim memegang apa yang diturunkan oleh Yang Maha Mengetahui, dan Allah (﷾) berfirman bahwa itu adalah agama yang telah disempurnakan.
Perspektif
Sang Jina mengetahui seluruh kebenaran
Mahavira menjadi seorang Kevalin, yang mahatahu, dan melihat segala sesuatu dalam semua keadaannya. Ajarannya adalah petunjuk yang pasti bagi setiap orang yang belum mahatahu.
Ajaran Svetambara maupun Digambara
Mahavira menjadi seorang Kevalin, dan mengetahui dan melihat semua keadaan semua makhluk hidup di dunia.
Bantahan
Al-Qur'an berkata bahwa tidak ada sesuatu pun di langit dan di bumi, kecuali Allah (﷾), yang mengetahui perkara yang gaib. Bahkan Nabi terakhir (ﷺ) disuruh berkata bahwa beliau tidak mengetahui yang gaib. Dalam Islam, pengetahuan tentang segala sesuatu hanya milik Allah (﷾). Seorang rasul mengetahui tentang yang gaib hanya apa yang diperlihatkan Allah (﷾) kepadanya.
Ajaran seorang Jina yang mahatahu adalah petunjuk yang pasti, dan hanya ajaran itu yang dapat bertahan terhadap ujian akal.
Bantahan
Maka segala sesuatu bergantung pada catatan sabda-sabdanya. Kedua tradisi berkata bahwa Purva telah hilang, dan kaum Digambara berpendapat bahwa Anga juga telah hilang.
Anekantavada: aspek-aspek kenyataan yang beragam
Setiap hal mempunyai aspek yang tak terhitung, jadi siapa pun yang belum mahatahu hanya melihat sebagiannya. Pandangan sebagian (naya) sah dalam seginya sendiri, dan menjadi salah ketika dianggap sebagai seluruh kebenaran.
Para ahli logika Jain: Siddhasena Divakara (diklaim oleh kedua tradisi), Hemacandra dan Mallisena (Svetambara)
Setiap hal mempunyai sifat dan keadaan yang tak terhitung, jadi tidak seorang pun yang belum mahatahu melihat suatu hal secara utuh.
Bantahan
Al-Qur'an berkata bahwa manusia diberi pengetahuan hanya sedikit. Jadi tidak seorang pun mencapai seluruh kebenaran dengan pandangannya sendiri. Manusia mengetahui kebenaran yang mereka perlukan hanya sejauh yang diberitahukan Allah (﷾), dan Dia telah memberitahukannya dalam Kitab-Nya.
Pandangan sebagian (naya) sah dalam seginya sendiri. Pandangan itu menjadi salah hanya ketika dianggap sebagai seluruh kebenaran (ekanta).
Bantahan
Jadi logika Jain tidak menjadikan setiap pandangan benar sebagaimana dipegang oleh para penganutnya. Logika itu menilai setiap pandangan terhadap seluruh kebenaran, yang tidak dapat diberikan oleh pandangan sebagian mana pun.
Aspek-aspek yang beragam sebagai toleransi
Anekantavada memperluas tanpa kekerasan sampai ke pikiran. Ajaran itu mengajarkan kerendahan hati dan sikap menghormati pandangan orang lain, jadi tidak satu agama pun boleh mengklaim memiliki seluruh kebenaran.
Pembacaan modern yang dipegang banyak orang Jain
Anekantavada memperluas tanpa kekerasan sampai ke pendapat orang lain, jadi tidak satu agama pun boleh mengklaim seluruh kebenaran.
Bantahan
Dundas menyebut pembacaan ini modern; para guru Jain klasik menganggap jalan mereka sendiri lebih unggul. Islam mengklaim kebenaran secara terbuka. Al-Qur'an berkata bahwa tidak ada paksaan dalam agama, jadi kaum Muslim boleh meyakinkan tetapi tidak boleh memaksa siapa pun menjadi Muslim.
Apa yang ditunjukkan catatan sejarah
Ajaran Jain berpendapat bahwa seluruh kebenaran hanya dilihat oleh orang yang mengetahui segala sesuatu. Para ahli logika Jain menilai pandangan-pandangan sebagian terhadapnya. Kaum Jain berpendapat bahwa tidak seorang pun di bagian dunia ini mencapai kemahatahuan pada zaman ini. Kitab-kitab yang membawa ajaran sang Jina sebagian telah hilang dan diperselisihkan.
Kitab-kitab suci Svetambara berkata bahwa Mahavira, setelah menjadi Kevalin, mengetahui dan melihat semua keadaan semua makhluk hidup di dunia.
Para ahli logika Jain berpendapat bahwa pandangan sebagian menjadi salah ketika dianggap sebagai seluruh kebenaran.
Membaca anekantavada sebagai toleransi terhadap setiap pendapat adalah pembacaan modern.
Kaum Jain kemudian memegang suatu pandangan tentang Jambu, murid Mahavira. Sesudah dia, tidak seorang pun di bagian dunia ini mencapai kemahatahuan pada zaman ini.
Kaum Jain berpendapat bahwa dua puluh Jina sekarang mengajar di wilayah-wilayah dunia yang jauh, seperti Mahavideha. Yang paling terkenal di antara mereka adalah Simandhara.
Kedua tradisi berkata bahwa keempat belas Purva telah hilang, dan kaum Digambara berpendapat bahwa Anga juga telah hilang.
Perspektif Islam
Hanya Allah (﷾) yang mengetahui segala sesuatu, dan manusia hanya mengetahui apa yang Dia kehendaki. Dia memperlihatkan apa yang dikehendaki-Nya tentang yang gaib kepada rasul yang diridai-Nya, dan Dia memelihara Kitab yang diturunkan-Nya. Pembaca yang mencari seluruh kebenaran diajak memeriksa Al-Qur'an dan kehidupan Nabi terakhir (ﷺ).
Hanya Allah (﷾) yang mengetahui yang gaib. Nabi (ﷺ) disuruh berkata bahwa beliau tidak mengetahuinya.
Manusia tidak mengetahui sesuatu apa pun tentang ilmu Allah (﷾) melainkan apa yang Dia kehendaki, dan mereka diberi pengetahuan hanya sedikit.
Allah (﷾) memperlihatkan apa yang dikehendaki-Nya tentang yang gaib kepada rasul yang diridai-Nya.
Nabi (ﷺ) tidak berbicara menurut keinginannya; apa yang disampaikannya adalah wahyu yang diwahyukan kepadanya.
Allah (﷾) menurunkan Al-Qur'an dan berjanji untuk memeliharanya.
Al-Qur'an mengajak para pembacanya untuk memeriksanya. Al-Qur'an berkata bahwa sebuah kitab yang bukan dari Allah (﷾) akan memuat banyak hal yang bertentangan.
Tidak ada paksaan dalam agama.