Jawaban singkat
Tidak. Li dan qi menjelaskan bagaimana segala sesuatu terbentuk dan tertata, tetapi tidak satu pun dari keduanya dapat menjadi Yang berada di balik segala sesuatu. Zhu Xi (Chu Hsi), seorang guru Konghucu yang kemudian, mengajarkan bahwa setiap benda mempunyai li, asasnya, dan qi, daya bendawinya. Ia menyebut li segala sesuatu Batas Tertinggi. Ia berkata bahwa tidak dapat diterima membayangkan seorang manusia di langit yang mengadili dosa-dosa, atau berkata bahwa tidak ada yang memerintah. Yang memerintah, katanya, adalah li itu sendiri. Namun ia juga berkata bahwa li tidak mempunyai maksud, tidak membuat rencana, dan tidak membuat apa pun. Asas yang tidak membuat apa pun tidak mungkin menjadi apa yang mengadakan dunia. Islam berkata siapa yang memerintah: Allah (﷾), yang mengetahui segala sesuatu dan menciptakannya. Al-Qur'an berkata, “Sungguh, Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran.” (54:49). Para ulama Muslim Tionghoa memberikan jawaban ini dalam bahasa Tionghoa sejak tahun 1600-an. Bacalah Al-Qur'an, dan ujilah.
Penjelasan lengkap
Apa yang diajarkan Zhu Xi tentang li dan qi
Zhu Xi (Chu Hsi, 1130-1200) adalah guru Konghucu kemudian yang paling dikenal, yang sering disebut Neo-Konghucu. Ia mengajarkan bahwa setiap benda mempunyai dua sisi. Li adalah asasnya: pola yang dengannya benda itu menjadi seperti adanya, dan seperti seharusnya. Qi adalah daya bendawinya: bahan yang berkumpul untuk membentuknya. J. Percy Bruce, yang menerjemahkannya pada tahun 1922, menulis ‘Law’ (Hukum) untuk li dan ‘Ether’ (Eter) untuk qi. Zhu Xi menyebut li langit, bumi dan segala sesuatu Batas Tertinggi (taiji). Jika keduanya harus diurutkan, katanya, li lebih dahulu. Tetapi li tidak pernah ditemukan sendirian. Tanpa qi, tanyanya, “di mana Hukum dapat menemukan tempat tinggalnya?”
Zhu Xi mengatakan bahwa Batas Tertinggi (taiji) hanyalah asas (li) langit, bumi dan segala sesuatu. Sebelum langit dan bumi, asas ini sudah ada. Ditanya apakah asas mendahului daya bendawi (qi), ia mengatakan bahwa keduanya tidak benar-benar mempunyai sebelum dan sesudah; tetapi jika harus ditelusuri, asas lebih dahulu. Namun asas bukan sesuatu yang terpisah: ia ada di dalam daya bendawi, dan tanpa daya bendawi ia tidak punya tempat bersandar. Daya bendawi dapat berkumpul dan membentuk segala sesuatu. Asas tidak mempunyai perasaan atau maksud, tidak membuat rencana, dan tidak membuat apa pun; ia adalah dunia yang bersih dan terbuka tanpa jejak. Daya bendawi, menurutnya, bergerak dengan bersandar pada asas. Ia juga mengatakan bahwa pikiran Langit dan Bumi tidak dapat disebut tanpa kesadaran, tetapi ia tidak memikirkan segala sesuatu seperti yang dilakukan manusia. Ia mengutip Guru Cheng bahwa gerak dan diam tidak mempunyai titik awal: sebelum gerak ada diam, dan sebelum diam ada gerak. Ditanya apa yang ada sebelum dunia sekarang, ia mengatakan bahwa pasti ada dunia lain yang seperti ini. Langit dan bumi tidak dihancurkan: ketika manusia sama sekali tanpa Jalan, semuanya runtuh bersama ke dalam kekacauan, manusia dan segala sesuatu berakhir, dan semuanya dimulai lagi.
“kata ‘Kodrat’ merujuk pada Hukum seluruh alam semesta. Inilah yang disebut ‘Batas Tertinggi’.”
“Karena Ketetapan Langit ada, Eter juga harus ada, karena hanya dengan demikian dapat ada wadah bagi Hukum—seandainya tidak ada Eter di mana Hukum dapat menemukan tempat tinggalnya?”
Apa yang menurut Zhu Xi tidak dapat dilakukan li
Zhu Xi berhati-hati tentang apa yang dapat dilakukan li. Qi, katanya, dapat berkumpul dan membentuk benda-benda. Li tidak mempunyai perasaan atau maksud, tidak membuat rencana, dan tidak membuat apa pun. Ia menyebutnya dunia yang bersih dan terbuka tanpa jejak. Ia juga berkata bahwa pikiran Langit dan Bumi bukannya tanpa kesadaran. Tetapi pikiran itu tidak menimbang-nimbang sesuatu seperti manusia. Tentang Langit, ia menolak dua jawaban. Membayangkan seorang manusia di langit yang mengadili dosa-dosa tidak dapat diterima. Berkata bahwa sama sekali tidak ada yang memerintah juga tidak dapat diterima. Dalam bab yang sama ia berkata bahwa yang memerintah adalah li itu sendiri.
Zhu Xi mengatakan bahwa Batas Tertinggi (taiji) hanyalah asas (li) langit, bumi dan segala sesuatu. Sebelum langit dan bumi, asas ini sudah ada. Ditanya apakah asas mendahului daya bendawi (qi), ia mengatakan bahwa keduanya tidak benar-benar mempunyai sebelum dan sesudah; tetapi jika harus ditelusuri, asas lebih dahulu. Namun asas bukan sesuatu yang terpisah: ia ada di dalam daya bendawi, dan tanpa daya bendawi ia tidak punya tempat bersandar. Daya bendawi dapat berkumpul dan membentuk segala sesuatu. Asas tidak mempunyai perasaan atau maksud, tidak membuat rencana, dan tidak membuat apa pun; ia adalah dunia yang bersih dan terbuka tanpa jejak. Daya bendawi, menurutnya, bergerak dengan bersandar pada asas. Ia juga mengatakan bahwa pikiran Langit dan Bumi tidak dapat disebut tanpa kesadaran, tetapi ia tidak memikirkan segala sesuatu seperti yang dilakukan manusia. Ia mengutip Guru Cheng bahwa gerak dan diam tidak mempunyai titik awal: sebelum gerak ada diam, dan sebelum diam ada gerak. Ditanya apa yang ada sebelum dunia sekarang, ia mengatakan bahwa pasti ada dunia lain yang seperti ini. Langit dan bumi tidak dihancurkan: ketika manusia sama sekali tanpa Jalan, semuanya runtuh bersama ke dalam kekacauan, manusia dan segala sesuatu berakhir, dan semuanya dimulai lagi.
Zhu Xi mengatakan bahwa berbicara tentang seorang manusia di langit yang mengadili dosa-dosa tidak dapat diterima; tetapi mengatakan bahwa sama sekali tidak ada yang memerintah juga tidak dapat diterima. Dalam bab yang sama ia mengatakan bahwa yang memerintah adalah asas itu sendiri. Ditanya tentang kata Langit dalam kitab-kitab klasik, ia mengatakan bahwa kata itu kadang-kadang berarti langit biru, kadang-kadang yang memerintah, dan kadang-kadang asas saja.
Penguasa di tempat tinggi dalam kitab-kitab lama
Seorang murid bertanya apakah sungguh-sungguh ada yang membagikan nasib setiap orang dalam hidup. Zhu Xi menjawab bahwa semua itu hanya mengalir keluar dari sumber yang agung. Tampaknya seakan-akan ada yang membagikannya, tetapi sebenarnya tidak ada. Bagaimana mungkin ada seseorang di atas sana yang membagikannya, tanyanya. Dua dari kitab Konghucu yang tertua, Kitab Syair dan Kitab Catatan (Shijing dan Shujing), membuatnya tampak seakan-akan ada seseorang di atas. Kitab-kitab itu berbicara, misalnya, tentang murka Sang Penguasa (Di), yang juga mereka sebut Penguasa di tempat tinggi (Shangdi). “Namun demikian,” lanjut Zhu Xi, “Penguasa ini tidak lain adalah Hukum. Di seluruh alam semesta tidak ada yang lebih tinggi daripada Hukum dan karena itu digunakan sebutan Penguasa.” Bruce menulis ‘Law’ (Hukum) untuk li, dan ‘Ruler’ (Penguasa) untuk Di. Zhu Xi menambahkan bahwa satu baris lama tentang Penguasa di tempat tinggi membawa arti memerintah. Jadi Zhu Xi mempertahankan nama lama itu dan arti memerintah, lalu memberikannya kepada li.
Ditanya apakah nasib yang tidak setara yang diterima manusia sungguh-sungguh dibagikan oleh seseorang, atau hanya berasal dari pertemuan dua jenis daya bendawi secara kebetulan, Zhu Xi mengatakan bahwa semua itu hanya mengalir keluar dari sumber yang agung. Tampaknya demikian, tetapi sebenarnya tidak ada yang membagikannya: bagaimana mungkin ada seseorang di atas sana yang membagikan ini? Apa yang dikatakan Kitab Syair dan Kitab Catatan membuat seolah-olah ada seseorang di atas, seperti ketika keduanya berbicara tentang murka Penguasa. Tetapi ini pun hanyalah li. Tidak ada sesuatu pun di dunia yang lebih dihormati daripada li, sehingga ia diberi nama Penguasa (Di). Dalam baris ‘Penguasa agung di tempat tinggi menurunkan rasa moral kepada rakyat’, kata ‘menurunkan’ membawa makna memerintah.
“Namun demikian, Penguasa ini tidak lain adalah Hukum. Di seluruh alam semesta tidak ada yang lebih tinggi daripada Hukum dan karena itu digunakan sebutan Penguasa.”
Zhu Xi mengatakan bahwa berbicara tentang seorang manusia di langit yang mengadili dosa-dosa tidak dapat diterima; tetapi mengatakan bahwa sama sekali tidak ada yang memerintah juga tidak dapat diterima. Dalam bab yang sama ia mengatakan bahwa yang memerintah adalah asas itu sendiri. Ditanya tentang kata Langit dalam kitab-kitab klasik, ia mengatakan bahwa kata itu kadang-kadang berarti langit biru, kadang-kadang yang memerintah, dan kadang-kadang asas saja.
Pola tidak membuat dirinya sendiri
Zhu Xi benar bahwa dunia penuh dengan keteraturan. Tetapi menurut keterangannya sendiri, li tidak bermaksud apa pun, tidak merencanakan apa pun dan tidak membuat apa pun. Qi berkumpul dan membentuk benda-benda, tetapi menurutnya qi bergerak dengan bersandar pada li. Jadi tidak satu pun dari keduanya memilih keteraturan itu. Zhu Xi juga mengajarkan bahwa dunia jatuh kembali ke dalam kekacauan dan bermula lagi, dan bahwa dunia seperti dunia kita telah ada sebelumnya. Barisan dunia yang tak berakhir tetap tidak menjelaskan mengapa ada dunia sama sekali. Li adalah pola yang diikuti benda-benda; li bukanlah apa yang mengadakannya. Islam berkata bahwa keteraturan itu dikehendaki, oleh Dia yang menciptakan segala sesuatu. Al-Qur'an bertanya, “Atau apakah mereka tercipta tanpa asal-usul ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)?” (52:35). Al-Qur'an berkata, “Sungguh, Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran.” (54:49). Allah (﷾) adalah Dia “yang menciptakan, lalu menyempurnakan (penciptaan-Nya)” (87:2).
Zhu Xi mengatakan bahwa Batas Tertinggi (taiji) hanyalah asas (li) langit, bumi dan segala sesuatu. Sebelum langit dan bumi, asas ini sudah ada. Ditanya apakah asas mendahului daya bendawi (qi), ia mengatakan bahwa keduanya tidak benar-benar mempunyai sebelum dan sesudah; tetapi jika harus ditelusuri, asas lebih dahulu. Namun asas bukan sesuatu yang terpisah: ia ada di dalam daya bendawi, dan tanpa daya bendawi ia tidak punya tempat bersandar. Daya bendawi dapat berkumpul dan membentuk segala sesuatu. Asas tidak mempunyai perasaan atau maksud, tidak membuat rencana, dan tidak membuat apa pun; ia adalah dunia yang bersih dan terbuka tanpa jejak. Daya bendawi, menurutnya, bergerak dengan bersandar pada asas. Ia juga mengatakan bahwa pikiran Langit dan Bumi tidak dapat disebut tanpa kesadaran, tetapi ia tidak memikirkan segala sesuatu seperti yang dilakukan manusia. Ia mengutip Guru Cheng bahwa gerak dan diam tidak mempunyai titik awal: sebelum gerak ada diam, dan sebelum diam ada gerak. Ditanya apa yang ada sebelum dunia sekarang, ia mengatakan bahwa pasti ada dunia lain yang seperti ini. Langit dan bumi tidak dihancurkan: ketika manusia sama sekali tanpa Jalan, semuanya runtuh bersama ke dalam kekacauan, manusia dan segala sesuatu berakhir, dan semuanya dimulai lagi.
“Atau apakah mereka tercipta tanpa asal-usul ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)? Ataukah mereka telah menciptakan langit dan bumi? Sebenarnya mereka tidak meyakini (apa yang mereka katakan).”
“Sungguh, Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran.”
“yang menciptakan, lalu menyempurnakan (penciptaan-Nya), yang menentukan kadar (masing-masing) dan memberi petunjuk,”
Bukan seorang manusia di langit, dan bukan pola yang tidak membuat apa pun
Zhu Xi berkata bahwa tidak dapat diterima membayangkan seorang manusia di langit yang mengadili dosa-dosa. Islam berkata bahwa Allah (﷾) bukan manusia. Al-Qur'an berkata tentang Allah (﷾), “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia”. Tetapi ayat yang sama berlanjut: “Dan Dia Yang Maha Mendengar, Maha Melihat” (42:11). Dan Allah (﷾) memang mengadili: Dia adalah “Pemilik hari pembalasan” (1:4). Dia adalah “Yang Awal, Yang Akhir”, dan “Dia Maha Mengetahui segala sesuatu” (57:3). Tidak ada sehelai daun pun yang gugur tanpa sepengetahuan-Nya (6:59). Dia berbicara kepada manusia dengan perantaraan wahyu, atau melalui para utusan (42:51). Jadi Yang berada di balik segala sesuatu bukanlah manusia dan bukan pula pola yang tidak membuat apa pun. Dia adalah Allah, yang mengetahui apa yang Dia buat, dan membuatnya menurut ukuran.
Zhu Xi mengatakan bahwa berbicara tentang seorang manusia di langit yang mengadili dosa-dosa tidak dapat diterima; tetapi mengatakan bahwa sama sekali tidak ada yang memerintah juga tidak dapat diterima. Dalam bab yang sama ia mengatakan bahwa yang memerintah adalah asas itu sendiri. Ditanya tentang kata Langit dalam kitab-kitab klasik, ia mengatakan bahwa kata itu kadang-kadang berarti langit biru, kadang-kadang yang memerintah, dan kadang-kadang asas saja.
“(Allah) Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu pasangan-pasangan dari jenis kamu sendiri, dan dari jenis hewan ternak pasangan-pasangan (juga). Dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia. Dan Dia Yang Maha Mendengar, Maha Melihat.”
“Pemilik hari pembalasan.”
“Dialah Yang Awal, Yang Akhir, Yang Zahir dan Yang Batin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.”
“Dan kunci-kunci semua yang gaib ada pada-Nya; tidak ada yang mengetahuinya selain Dia. Dia mengetahui apa yang ada di darat dan di laut. Tidak ada sehelai daun pun yang gugur yang tidak diketahui-Nya, tidak ada sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak pula sesuatu yang basah atau yang kering, yang tidak tertulis dalam kitab yang nyata (Lauḥ Maḥfūẓ).”
“Dan tidaklah patut bagi seorang manusia bahwa Allah akan berbicara kepadanya kecuali dengan perantaraan wahyu atau dari belakang tabir atau dengan mengutus utusan (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan izin-Nya apa yang Dia kehendaki. Sungguh, Dia Mahatinggi, Mahabijaksana.”
| Apakah ia… | Li, menurut Zhu Xi | Allah (﷾), dalam Al-Qur'an |
|---|---|---|
| Berkehendak dan merencanakan | ||
| Menciptakan sesuatu | ||
| Menghakimi | ||
| Berbicara kepada manusia |
- Ya
- Tidak
Para ulama Muslim Tionghoa yang menulis dalam bahasa Tionghoa
Sejak tahun 1600-an, para ulama Muslim Tionghoa menulis kitab-kitab tentang Islam dalam bahasa Tionghoa. Banyak Muslim Tionghoa menyebut kitab-kitab ini Han Kitab. Wang Daiyu menerbitkan yang tertua yang masih ada pada tahun 1642, dan Ma Zhu dan Liu Zhi menyusul. Ma Zhu menghabiskan lebih dari sepuluh tahun mempelajari bahasa-bahasa dan kitab-kitab Islam. Liu Zhi menghabiskan enam tahun untuk kitab-kitab Islam berbahasa Arab dan Persia. Sejarawan Jonathan Lipman menulis bahwa Wang memakai istilah-istilah mazhab Zhu Xi, bahasa kaum terpelajar Tionghoa pada zamannya. Ia memakainya untuk mengkritik sebagian gagasan dasar mazhab itu dan untuk membela Islam. Separuh dari empat puluh esai Wang adalah tentang ibadah dan hukum Islam. Kitab Ma Zhu adalah panduan tentang keyakinan dan amalan Islam, dan Liu Zhi menulis tentang rukun Islam yang lima. Kaum Muslim menjelaskan Islam dalam bahasa para pembacanya sendiri, sebagaimana halaman ini melakukannya dalam bahasa Indonesia.
Lipman menggambarkan Han Kitab, buku-buku tentang Islam dalam bahasa Tionghoa karya para ulama Muslim Tionghoa; sebuah bagian yang dikutip Lipman mengatakan bahwa kaum Muslim Tionghoa menyebutnya dengan nama ini (hlm. 72); Lipman menambahkan bahwa nama itu dipakai di barat laut, sedangkan di tempat lain dipakai judul Tionghoa (bab 3, catatan 38). Wang Daiyu dari Nanjing menerbitkan Zhengjiao zhenquan pada tahun 1642, karya semacam itu yang paling awal yang masih ada (hlm. 75). Dalam kata pengantarnya Wang mengatakan bahwa buku itu sepenuhnya bersandar pada penghormatan kepada Kitab Suci, dengan merujuk pada kitab-kitab tafsir (hlm. 76-77). Lipman mengatakan bahwa Wang berpegang pada kebenaran-kebenaran dasar Islam, tetapi menulis dengan kosakata aliran Neo-Konfusian Cheng bersaudara dan Zhu Xi; bab-bab pertamanya tentang keesaan Tuhan dan tentang penciptaan (hlm. 77). Bukunya memuat dua puluh esai pendek tentang filsafat dan agama dan dua puluh tentang ibadah dan hukum, dan membela akidah dan amalan Islam (hlm. 77-78). Wang memakai seluruh bahasa filsafat itu untuk mengkritik beberapa gagasan dasarnya dan untuk membela Islam (hlm. 79). Ma Zhu menghabiskan lebih dari sepuluh tahun mempelajari bahasa-bahasa dan teks-teks Islam, dan menulis Qingzhen zhinan (Kompas Islam), pedoman pemikiran dan amalan Islam (hlm. 80). Liu Zhi, penulis paling terkenal di antara mereka, mempelajari kurikulum Arab dan Persia selama enam tahun sesudah pendidikan Konfusiannya (hlm. 81), dan menulis risalah tentang lima rukun Islam (hlm. 83).
Ma Zhu: Tuhan Yang Sejati sebelum Batas Tertinggi
Ma Zhu, seorang ulama Muslim Tionghoa, menyampaikan jawaban Islam dalam bahasa Tionghoa. Ia menulis bahwa sebelum Batas Tertinggi bermula, hanya ada Satu Tuhan Yang Sejati (Zhenzhu). Ia tidak mempunyai tandingan dan tidak mempunyai sekutu, tidak mempunyai permulaan dan tidak mempunyai akhir. Penglihatan-Nya tidak bergantung pada mata, pendengaran-Nya pada telinga, atau ucapan-Nya pada lidah. Ia tidak diperanakkan, dan Ia tidak beranak. Ia memegang bentuk-bentuk dan asas-asas segala sesuatu sejak semula. Ma Zhu membandingkannya dengan rancangan sebuah karangan dalam pikiran seorang penulis sebelum ia mengangkat kuasnya. Bagi Tuhan Yang Sejati, tambahnya, tidak ada sebelum dan sesudah. Ma Zhu memakai kata lama Batas Tertinggi dengan caranya sendiri. Baginya itu bukanlah li segala sesuatu menurut Zhu Xi. Itu adalah sesuatu yang diciptakan: akar segala sesuatu tanpa kesadaran, yang diadakan oleh Tuhan Yang Sejati.
Dalam pujian pertama dari delapan pujiannya kepada Tuhan, ‘Yang Esa’, Ma Zhu menulis bahwa sebelum Batas Tertinggi (taiji) bermula, hanya ada Satu Tuhan Yang Sejati (Zhenzhu). Ia tidak mempunyai tandingan dan tidak mempunyai sekutu, tidak mempunyai permulaan dan tidak mempunyai akhir. Penglihatan-Nya tidak bergantung pada mata, namun Ia melihat segalanya; pendengaran-Nya tidak bergantung pada telinga, dan ucapan-Nya tidak bergantung pada lidah. Ia tidak diperanakkan, dan Ia tidak memperanakkan siapa pun. Ia menjadikan langit dan bumi dan memelihara semua makhluk hidup. Ia memegang bentuk-bentuk segala sesuatu sebelum langit, sebagaimana seorang penulis memegang rencana sebuah karangan dalam pikirannya sebelum ia mengambil kuas. Dan sebagaimana setiap aksara tertulis mempunyai maknanya, setiap benda mempunyai asasnya (li); Ia memegang semua asas sejak awal. Bagi Tuhan Yang Sejati, tambah Ma Zhu, sesungguhnya tidak ada sebelum dan sesudah. Dalam pujian ‘Kuasa yang agung’, Ma Zhu menulis bahwa Tuhan Yang Sejati mengadakan akar segala sesuatu yang tidak mempunyai kesadaran, dan bahwa ini disebut Batas Tertinggi. Maka dalam pemakaiannya, Batas Tertinggi adalah sesuatu yang diciptakan, bukan asas segala sesuatu menurut Zhu Xi.
“Katakanlah (Muhammad), Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah tempat meminta segala sesuatu. (Allah) tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada sesuatu yang setara dengan Dia.”
“(Allah) Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu pasangan-pasangan dari jenis kamu sendiri, dan dari jenis hewan ternak pasangan-pasangan (juga). Dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia. Dan Dia Yang Maha Mendengar, Maha Melihat.”
Apa yang diminta Islam dari pembaca
Islam lebih dari sekadar jawaban tentang dari mana segala sesuatu berasal. Islam adalah jalan hidup yang lengkap (din), dengan keyakinan, ibadah, hukum, keluarga dan akhlak bersama-sama. Allah (﷾) berfirman bahwa Dia telah menyempurnakan jalan hidup ini (5:3). Dia menyeru orang-orang beriman untuk masuk ke dalam Islam secara keseluruhan (2:208). Halaman ‘Apa itu Islam?’ memperlihatkannya secara utuh. Al-Qur'an mengaku sebagai firman Dia yang menciptakan segala sesuatu menurut ukuran, dan Al-Qur'an mengajak untuk diuji (2:23). Muhammad (ﷺ) adalah penutup para nabi, yang terakhir di antara mereka, yang diutus kepada semua manusia (33:40; 7:158). Bacalah Al-Qur'an, ujilah, dan tanyakan apakah beliau adalah rasul terakhir yang diutus Allah (﷾).
“Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridai Islam sebagai agamamu.”
“Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan. Sungguh, ia musuh yang nyata bagimu.”
“Dan jika kamu meragukan (Al-Qur`an) yang kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad), maka buatlah satu surah semisal dengannya dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.”
“Muhammad itu bukanlah bapak dari seseorang di antara kamu, tetapi dia adalah utusan Allah dan penutup para nabi. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”
“Katakanlah (Muhammad), “Wahai manusia! Sesungguhnya aku ini utusan Allah bagi kamu semua, Yang memiliki kerajaan langit dan bumi; tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Yang menghidupkan dan mematikan, maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, (yaitu) Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya). Ikutilah dia, agar kamu mendapat petunjuk.””
Sanggahan demi sanggahan
J. Percy Bruce (terj.), The Philosophy of Human Nature by Chu Hsi, 1922, Buku II, Ketetapan, bagian 19 — hlm. 147
“Namun demikian, Penguasa ini tidak lain adalah Hukum. Di seluruh alam semesta tidak ada yang lebih tinggi daripada Hukum dan karena itu digunakan sebutan Penguasa.”
Dikutip untuk
Zhu Xi berkata, “Penguasa ini tidak lain adalah Hukum”. Jadi penguasa segala sesuatu adalah li, sebuah asas, dan bukan Tuhan yang bertindak.
Tanggapan
Zhu Xi berkata bahwa Penguasa di tempat tinggi dalam kitab-kitab lama adalah li, karena tidak ada yang lebih tinggi. Ia juga berkata bahwa tidak dapat diterima mengklaim bahwa tidak ada yang memerintah. Namun menurut keterangannya sendiri, li tidak mempunyai maksud, tidak membuat rencana dan tidak membuat apa pun. Penguasa yang tidak memutuskan apa pun dan tidak membuat apa pun tidak memerintah sebagaimana seorang penguasa. Zhu Xi bahkan berkata bahwa sebenarnya tidak ada yang membagikan nasib setiap orang. Al-Qur'an berkata siapa yang memerintah dan menetapkan ukuran setiap benda: Allah (﷾), yang “menciptakan segala sesuatu, lalu menetapkan ukuran-ukurannya dengan tepat” (25:2).
Kesimpulannya — Zhu Xi mempertahankan nama lama Penguasa di tempat tinggi, tetapi memberikannya kepada li, yang tidak membuat apa pun. Islam berkata bahwa Sang Penguasa adalah Allah, yang menciptakan, mengetahui dan menetapkan ukuran setiap benda.
Percakapan-Percakapan Tergolong dari Guru Zhu (Zhuzi yulei), bab 1, tentang li dan qi
Zhu Xi mengatakan bahwa Batas Tertinggi (taiji) hanyalah asas (li) langit, bumi dan segala sesuatu. Sebelum langit dan bumi, asas ini sudah ada. Ditanya apakah asas mendahului daya bendawi (qi), ia mengatakan bahwa keduanya tidak benar-benar mempunyai sebelum dan sesudah; tetapi jika harus ditelusuri, asas lebih dahulu. Namun asas bukan sesuatu yang terpisah: ia ada di dalam daya bendawi, dan tanpa daya bendawi ia tidak punya tempat bersandar. Daya bendawi dapat berkumpul dan membentuk segala sesuatu. Asas tidak mempunyai perasaan atau maksud, tidak membuat rencana, dan tidak membuat apa pun; ia adalah dunia yang bersih dan terbuka tanpa jejak. Daya bendawi, menurutnya, bergerak dengan bersandar pada asas. Ia juga mengatakan bahwa pikiran Langit dan Bumi tidak dapat disebut tanpa kesadaran, tetapi ia tidak memikirkan segala sesuatu seperti yang dilakukan manusia. Ia mengutip Guru Cheng bahwa gerak dan diam tidak mempunyai titik awal: sebelum gerak ada diam, dan sebelum diam ada gerak. Ditanya apa yang ada sebelum dunia sekarang, ia mengatakan bahwa pasti ada dunia lain yang seperti ini. Langit dan bumi tidak dihancurkan: ketika manusia sama sekali tanpa Jalan, semuanya runtuh bersama ke dalam kekacauan, manusia dan segala sesuatu berakhir, dan semuanya dimulai lagi.
Dikutip untuk
Li sudah ada sebelum langit dan bumi. Li kekal, jadi li tidak membutuhkan pembuat, dan dunia juga tidak.
Tanggapan
Zhu Xi memang berkata bahwa, jika harus ditelusuri, li lebih dahulu. Tetapi ia berkata bahwa li tidak mempunyai tempat bernaung tanpa qi, dan bahwa li tidak membuat apa pun. Ia juga mengajarkan bahwa dunia jatuh ke dalam kekacauan dan bermula lagi. Barisan dunia yang tak berakhir tetap tidak menjelaskan mengapa ada dunia sama sekali. Al-Qur'an bertanya, “Atau apakah mereka tercipta tanpa asal-usul ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)?” (52:35). Yang tanpa permulaan adalah Allah, “Yang Awal, Yang Akhir” (57:3). Halaman ‘Jika segala sesuatu membutuhkan pencipta, siapa yang menciptakan Allah?’ menjelaskan mengapa rangkaian sebab harus berakhir pada Dia yang tidak bergantung pada apa pun.
Kesimpulannya — Baik pola kekal yang tidak membuat apa pun maupun barisan dunia yang tak berakhir tidak menjelaskan mengapa ada dunia. Yang tanpa permulaan adalah Allah, yang mengetahui dan menciptakan.
Perspektif
Apa yang diajarkan Zhu Xi
Zhu Xi mengajarkan bahwa setiap benda mempunyai li (asas) dan qi (daya bendawi). Ia menyebut li segala sesuatu Batas Tertinggi, dan berkata bahwa yang memerintah adalah li itu sendiri.
Zhu Xi menyebut li langit, bumi dan segala sesuatu Batas Tertinggi (taiji). Ia berkata bahwa li tidak dapat ditemukan terpisah dari qi.
Zhu Xi berkata bahwa li tidak mempunyai perasaan atau maksud, tidak membuat rencana, dan tidak membuat apa pun. Qi-lah yang berkumpul dan membentuk benda-benda.
Zhu Xi berkata bahwa tidak dapat diterima membayangkan seorang manusia di langit yang mengadili dosa-dosa, atau berkata bahwa tidak ada yang memerintah. Ia berkata bahwa yang memerintah adalah li itu sendiri.
Ditanya apakah sungguh-sungguh ada yang membagikan nasib manusia yang tidak setara, Zhu Xi berkata bahwa sebenarnya tidak ada. Kitab-kitab lama hanya membuatnya tampak seakan-akan ada seseorang di atas, dan Penguasa di tempat tinggi yang dibicarakannya adalah li.
Seorang pembaca Konghucu: li dan qi sudah cukup
Seorang pembaca Konghucu mungkin berkata bahwa li dan qi menjelaskan dunia, tanpa memerlukan Pencipta. Sebagian menambahkan bahwa Batas Tertinggi adalah Tuhan dengan nama lain, atau bahwa para ulama Muslim Tionghoa menjadikan Islam Konghucu.
Zhu Xi mengajarkan bahwa li sudah ada sebelum langit dan bumi, dan bahwa dunia lain ada sebelum dunia ini. Li kekal dan tidak membutuhkan pembuat.
Bantahan
Anggaplah li tidak mempunyai permulaan. Zhu Xi berkata bahwa li tidak mempunyai tempat bernaung tanpa qi, jadi li tidak berdiri sendiri. Dan li tidak membuat apa pun, jadi li tidak dapat menjelaskan mengapa qi, atau dunia mana pun, ada. Barisan dunia yang tak berakhir juga tidak menjelaskannya. Hanya Dia yang tidak bergantung pada apa pun yang menjelaskannya: Allah (﷾), “Allah tempat meminta segala sesuatu” (112:2).
Li bukan pembuat. Li adalah alasan mengapa setiap benda seperti adanya. Meminta seorang pembuat berarti salah membaca Zhu Xi.
Bantahan
Al-Qur'an berkata bahwa setiap benda diciptakan menurut ukuran (54:49). Tetapi mengapa sebuah benda seperti adanya bukanlah mengapa benda itu ada. Zhu Xi berkata bahwa li tidak membuat apa pun, jadi li tidak dapat berkata mengapa ada sesuatu sama sekali. Al-Qur'an bertanya, “Atau apakah mereka tercipta tanpa asal-usul ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)?” (52:35).
Zhu Xi berkata bahwa yang memerintah adalah li itu sendiri: “Penguasa ini tidak lain adalah Hukum”. Tidak ada lagi yang dibutuhkan.
Bantahan
Zhu Xi menyebut li Sang Penguasa karena tidak ada yang lebih tinggi. Tetapi penguasa memberi perintah, dan li, katanya, tidak mempunyai maksud dan tidak membuat rencana. Ia juga berkata bahwa sebenarnya tidak ada yang membagikan nasib setiap orang. Islam berkata bahwa Allah (﷾) membagikannya: Dia menciptakan segala sesuatu menurut ukuran (54:49).
Qi berkumpul dan berpencar dengan sendirinya, dan hal itu menjelaskan dunia. Tidak dibutuhkan penguasa.
Bantahan
Zhu Xi sendiri berkata bahwa tidak dapat diterima berkata bahwa tidak ada yang memerintah. Qi menjaga keteraturan yang sama di mana-mana dan dalam setiap musim. Jika keteraturan itu hanyalah kodrat qi sendiri, siapa yang memberi qi kodrat itu? Al-Qur'an menunjuk keteraturan itu, tanpa sesuatu pun yang tidak seimbang, sebagai karya Penciptanya (67:3).
Batas Tertinggi hanyalah Tuhan dengan nama lain, jadi para penganut Konghucu sudah mengenal Tuhan.
Bantahan
Zhu Xi berkata bahwa Batas Tertinggi hanyalah li segala sesuatu, dan bahwa li tidak membuat apa pun. Allah (﷾) dalam Al-Qur'an mendengar dan melihat (42:11) dan berbicara melalui para utusan (42:51). Keduanya tidak sama.
Para ulama Muslim Tionghoa menulis dengan istilah-istilah Neo-Konghucu, jadi mereka menjadikan Islam Konghucu.
Bantahan
Mereka menulis dalam bahasa kaum terpelajar Tionghoa pada zaman mereka, untuk menjelaskan Islam, sebagaimana kaum Muslim sekarang menjelaskannya dalam bahasa Inggris atau Melayu. Wang Daiyu memakai istilah-istilah itu untuk mengkritik sebagian gagasan dasar Neo-Konghucu dan untuk membela Islam. Dan Islam dikenal dari Al-Qur'an dan ajaran Nabi (ﷺ), bukan dari penulis mana pun yang kemudian. Al-Qur'an mengajak untuk diuji (2:23).
Para ulama Muslim Tionghoa
Sejak tahun 1600-an, para ulama Muslim Tionghoa menjelaskan Islam dalam bahasa Tionghoa. Ma Zhu menulis bahwa Satu Tuhan Yang Sejati ada sebelum Batas Tertinggi, dan mengadakannya. Dalam pemakaiannya sendiri, Batas Tertinggi berarti akar segala sesuatu yang diciptakan.
Wang Daiyu menerbitkan Zhengjiao zhenquan pada tahun 1642, kitab Tionghoa tertua tentang Islam yang masih ada. Ma Zhu dan Liu Zhi menyusul.
Ma Zhu menulis bahwa sebelum Batas Tertinggi hanya ada Satu Tuhan Yang Sejati, tanpa tandingan dan tanpa sekutu. Ia memakai kata lama itu dengan caranya sendiri, untuk akar yang diciptakan dari segala sesuatu tanpa kesadaran. Ia menulis bahwa Tuhan Yang Sejati mengadakannya.
Perspektif Islam
Li dan qi menggambarkan bagaimana segala sesuatu ditata dan dibentuk. Tetapi pola yang tidak membuat apa pun bukanlah Yang berada di balik segala sesuatu. Allah (﷾) menciptakan segala sesuatu menurut ukuran dan mengetahui segala sesuatu. Dia tidak serupa dengan apa pun, namun mendengar dan melihat.
Allah (﷾) menciptakan segala sesuatu dan menetapkan ukuran-ukurannya dengan tepat.
Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Allah (﷾), namun Dia mendengar dan melihat. Dia Yang Awal dan Yang Akhir, Dia Maha Mengetahui segala sesuatu, dan Dia Pemilik hari pembalasan.
Allah (﷾) tidak beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada sesuatu yang setara dengan Dia.
Allah (﷾) berbicara kepada manusia dengan perantaraan wahyu, dari belakang tabir, atau dengan mengutus seorang utusan. Al-Qur'an mengaku sebagai firman-Nya dan mengajak untuk diuji.
Islam adalah jalan hidup yang lengkap. Muhammad (ﷺ), penutup para nabi, diutus kepada semua manusia.