Jawaban singkat
Ya. Perintah Alkitab sendiri melarangnya. Perintah tentang patung melarang membuat patung atau rupa apa pun. Lalu perintah itu berkata, “Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya”. Musa berkata kepada Israel bahwa mereka tidak melihat sesuatu rupa Allah (﷾) di Gunung Horeb (Sinai), jadi mereka tidak boleh membuat patung. Para nabi mengejek orang-orang yang sujud di hadapan buatan tangan mereka sendiri. Yesus berdoa dengan wajah ke tanah, hanya kepada Allah (﷾), dan Injil-Injil tidak pernah menunjukkan Ia memakai sebuah gambar. Namun banyak gereja penuh dengan patung dan ikon Kristus, Maria dan para kudus, dan orang-orang berlutut di hadapannya. Jawaban Islam adalah menyembah hanya kepada Allah (﷾), tanpa gambar. Masjid tidak mempunyai gambar atau patung manusia atau hewan. Kaum Muslim menghadap Ka'bah hanya sebagai arah yang ditetapkan Allah (﷾), dan mereka sujud hanya kepada Allah (﷾).
Penjelasan lengkap
Apa yang dilarang perintah itu
Perintah tentang patung adalah yang kedua dalam penomoran Yahudi dan kebanyakan Protestan. Orang Katolik menghitungnya di dalam perintah pertama. Perintah itu mempunyai dua bagian. Bagian pertama melarang membuat patung atau rupa apa pun yang ada di langit atau di bumi. Bagian kedua melarang sujud menyembah atau beribadah kepada benda-benda itu. Hukum Taurat mengulanginya: tidak boleh ada tugu berhala atau batu berukir untuk sujud menyembah kepadanya. Patung-patung allah lain harus dibakar habis, bukan disimpan.
“Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apa pun, atau rupa apa pun yang ada di langit di atas, atau yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di dalam air di bawah bumi: Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya: sebab Aku, Tuhan, Allahmu, adalah Allah yang cemburu, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya sampai keturunan yang ketiga dan keempat dari orang-orang yang membenci Aku;”
“Janganlah kamu membuat berhala bagimu, dan patung pahatan atau tugu berhala janganlah kamu dirikan bagimu, juga batu berukir janganlah kamu tempatkan di negerimu untuk sujud menyembah kepadanya: sebab Akulah Tuhan, Allahmu.”
“Patung-patung allah mereka haruslah kamu bakar habis: janganlah engkau mengingini perak atau emas yang ada pada mereka, dan mengambilnya bagimu sendiri, supaya engkau jangan terjerat karenanya: sebab hal itu adalah kekejian bagi Tuhan, Allahmu.”
Israel tidak melihat sesuatu rupa di Horeb
Musa menjelaskan mengapa Allah (﷾) tidak memberikan gambar tentang diri-Nya. Allah (﷾) berfirman dari tengah-tengah api di Horeb, dan bangsa itu tidak melihat sesuatu rupa apa pun. Jadi mereka tidak boleh membuat rupa laki-laki atau perempuan, atau apa pun yang lain. Mereka tidak boleh sujud menyembah matahari, bulan dan bintang-bintang. Setiap gambar Allah (﷾) adalah sesuatu yang dibayangkan manusia.
“Hati-hatilah sekali, sebab kamu tidak melihat sesuatu rupa pada hari Tuhan berfirman kepadamu di Horeb dari tengah-tengah api: Supaya jangan kamu berlaku busuk dengan membuat bagimu patung yang menyerupai berhala apa pun, yang berbentuk laki-laki atau perempuan, Yang berbentuk binatang yang ada di bumi, yang berbentuk burung bersayap yang terbang di udara, Yang berbentuk binatang yang merayap di muka bumi, yang berbentuk ikan yang ada di dalam air di bawah bumi: Dan supaya jangan engkau mengarahkan matamu ke langit, sehingga apabila engkau melihat matahari, bulan dan bintang-bintang, segenap tentara langit, engkau disesatkan untuk sujud menyembah dan beribadah kepada sekaliannya itu, yang telah diberikan Tuhan, Allahmu, kepada segala bangsa di seluruh kolong langit.”
Para nabi tentang sujud di hadapan benda buatan
Kitab Mazmur berkata bahwa berhala-berhala mempunyai mata yang tidak dapat melihat dan telinga yang tidak dapat mendengar. Yesaya menggambarkan seseorang yang membakar setengah pohon untuk memasak makanannya. Sisanya ia ukir menjadi allah, lalu ia sujud di hadapannya dan berdoa kepadanya. Yesaya juga menggambarkan orang-orang yang mengupah tukang emas lalu memikul hasilnya di atas bahu mereka. Mereka berseru kepadanya, padahal ia tidak dapat menjawab mereka.
“Berhala-berhala mereka adalah perak dan emas, buatan tangan manusia. Mempunyai mulut, tetapi tidak dapat berkata-kata: mempunyai mata, tetapi tidak dapat melihat: Mempunyai telinga, tetapi tidak dapat mendengar: mempunyai hidung, tetapi tidak dapat mencium: Mempunyai tangan, tetapi tidak dapat meraba-raba: mempunyai kaki, tetapi tidak dapat berjalan: dan tidak dapat memperdengarkan suara dengan kerongkongannya. Seperti itulah jadinya orang-orang yang membuatnya; dan setiap orang yang percaya kepadanya.”
“Maka kayu itu menjadi kayu api bagi manusia: ia mengambil sebagian untuk memanaskan diri; ya, ia menyalakannya untuk membakar roti; ya, ia membuatnya menjadi allah lalu menyembah kepadanya; ia membuatnya menjadi patung lalu sujud kepadanya. Setengahnya dibakarnya dalam api; di atas bara api itu dipanggangnya daging; ia memanggang daging, lalu makan sampai kenyang: ia memanaskan diri sambil berkata, Ha, aku sudah panas, aku telah melihat api: Dan sisanya dibuatnya menjadi allah, yakni patung sembahannya: ia sujud kepadanya, menyembah dan berdoa kepadanya, katanya, Tolonglah aku; sebab engkaulah allahku.”
“Mereka mencurahkan emas dari kantong, dan menimbang perak dengan neraca, mereka mengupah tukang emas; dan tukang itu membuatnya menjadi allah: mereka sujud, ya, mereka menyembahnya. Mereka mengangkatnya ke atas bahu, mereka memikulnya, dan menempatkannya di tempatnya, maka ia berdiri; dari tempatnya ia tidak bergerak: ya, orang berseru kepadanya, tetapi ia tidak menjawab, dan tidak menyelamatkan dia dari kesesakannya.”
Bagaimana Yesus beribadah
Yesus berkata kepada Iblis bahwa hanya Allah (﷾) yang harus disembah dan kepada-Nya saja orang berbakti. Ia mengajarkan bahwa Allah (﷾) itu Roh, yang harus disembah dalam roh dan kebenaran. Ketika berdoa, Ia sujud dengan wajah-Nya di hadapan Allah (﷾), sebagaimana Mazmur memanggil orang untuk sujud dan berlutut di hadapan Tuhan yang menjadikan mereka. Injil-Injil tidak pernah menunjukkan Yesus berdoa di depan sebuah gambar. Surat Yohanes yang Pertama ditutup dengan peringatan kepada orang Kristen agar waspada terhadap segala berhala.
“Lalu berkatalah Yesus kepadanya, Enyahlah, Iblis: sebab ada tertulis, Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti.”
“Allah itu Roh: dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran.”
“Maka Ia maju sedikit, lalu sujud dan berdoa, katanya, Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku: tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.”
“Masuklah, marilah kita sujud menyembah, berlutut di hadapan Tuhan yang menjadikan kita.”
“Anak-anakku, waspadalah terhadap segala berhala. Amin.”
Bagaimana orang Kristen Katolik dan Ortodoks membela gambar
Gereja Katolik mengajarkan bahwa Konsili Nikea Kedua, sebuah pertemuan para pemimpin gereja pada tahun 787, menyetujui penghormatan (hormat yang dalam) kepada ikon. Ikon adalah gambar-gambar suci Kristus, Maria, para malaikat dan para kudus. Gereja berpendapat bahwa hormat yang diberikan kepada sebuah gambar beralih kepada pribadi yang digambarkannya. Gereja menyebutnya penghormatan, bukan penyembahan yang menjadi hak Allah (﷾). Orang Kristen menambahkan bahwa Allah (﷾) sendiri memerintahkan kerub-kerub dari emas (makhluk surgawi bersayap) dan ular tembaga. Mereka juga berkata bahwa Kristus adalah “gambar Allah yang tidak kelihatan”. Para pengkritik berkata bahwa ikon tidak ada dalam Kitab Suci. Pembela ikon yang terbesar adalah Yohanes dari Damsyik, seorang biarawan dan penulis yang wafat sekitar tahun 749. Ia menjawab bahwa ‘Trinitas’ dan ‘kesehakikatan’ (satu hakikat) juga tidak ditemukan dalam Kitab Suci dengan kata-kata itu. Ia mendasarkan ikon pada tradisi yang tidak tertulis. Setiap pokok dijawab di bawah ini.
Mengajarkan bahwa konsili ekumenis ketujuh, Nikea II pada tahun 787, menegakkan penghormatan ikon Kristus, Maria, para malaikat dan para kudus melawan kaum ikonoklas. Katekismus itu berpendapat bahwa penghormatan ini tidak melanggar perintah tentang berhala, karena hormat yang diberikan kepada sebuah gambar beralih kepada pribadi yang digambarkannya, dan itu adalah penghormatan yang khidmat, bukan penyembahan yang hanya layak bagi Allah.
“Dan haruslah kaubuat dua kerub dari emas, kaubuat itu dari emas tempaan, pada kedua ujung tutup pendamaian itu.”
“Maka berfirmanlah Tuhan kepada Musa, Buatlah ular tedung, dan taruhlah itu pada sebuah tiang: maka setiap orang yang terpagut, jika ia melihatnya, akan tetap hidup. Lalu Musa membuat ular tembaga, dan menaruhnya pada sebuah tiang; maka jika seseorang dipagut ular, dan ia memandang kepada ular tembaga itu, tetaplah ia hidup.”
“Ia adalah gambar Allah yang tidak kelihatan, yang sulung dari segala ciptaan:”
Membela ikon terhadap tuduhan bahwa ikon tidak alkitabiah, Yohanes bertanya di mana Perjanjian Lama atau Injil berbicara tentang Trinitas, kesehakikatan, satu Ketuhanan atau tiga pribadi dengan kata-kata itu, dan berargumen bahwa Gereja memegang banyak hal melalui tradisi yang tidak tertulis, gambar-gambar di antaranya.
Orang Kristen yang menolak gambar di gereja
Tidak semua orang Kristen menerima gambar. Katekismus Heidelberg tahun 1563 adalah dokumen dasar kaum Protestan Reformed. Katekismus itu mengajarkan bahwa Allah (﷾) sama sekali tidak boleh digambarkan. Katekismus itu juga menolak gambar di gereja sebagai buku bagi orang yang tidak terpelajar. Allah (﷾) mengajar umat-Nya melalui Firman-Nya, bukan melalui gambar-gambar yang tidak dapat berbicara.
Sebuah katekismus Protestan Reformed. Katekismus ini mengajarkan bahwa Tuhan tidak dapat dan tidak boleh digambarkan dengan cara apa pun, dan bahwa gambar-gambar makhluk tidak boleh dibuat atau disimpan untuk menyembahnya atau untuk melayani Tuhan melaluinya. Ditanya apakah gambar-gambar boleh diizinkan di gereja sebagai buku bagi orang yang tidak terpelajar, katekismus itu menjawab tidak: orang Kristen tidak boleh lebih bijak daripada Tuhan, yang mengajar umat-Nya melalui pemberitaan Firman-Nya, bukan melalui gambar-gambar bisu.
| Siapa | Apa yang mereka pegang |
|---|---|
| Orang Kristen Katolik dan Ortodoks | Ikon boleh dihormati; penghormatan itu tertuju kepada sosok yang digambarkan, dan ini bukan ibadah yang menjadi hak Tuhan. |
| Protestan Reformed (Katekismus Heidelberg, 1563) | Tuhan sama sekali tidak boleh digambarkan, dan gambar tidak mempunyai tempat di gereja. |
| Islam | Ibadah hanya untuk Allah (﷾), tanpa gambar apa pun; masjid tidak mempunyai gambar atau patung makhluk hidup. |
Apa yang diajarkan Al-Qur'an dan Nabi (ﷺ)
Al-Qur'an menyuruh orang-orang beriman menjauhi berhala-berhala dan tidak pernah mempersekutukan Allah (﷾). Al-Qur'an berkata bahwa pada Hari Kiamat Allah (﷾) akan bertanya kepada Isa apakah ia menyuruh orang-orang menjadikan dia dan ibunya sebagai tuhan. Isa akan menjawab bahwa ia hanya menyuruh mereka menyembah Allah (﷾). Al-Qur'an menyuruh manusia agar tidak bersujud kepada matahari atau bulan, tetapi kepada Allah (﷾) yang menciptakannya. Nabi (ﷺ) mendengar tentang sebuah gereja di Habasyah yang berisi gambar-gambar. Beliau mengecam, dengan kata-kata yang paling keras, kebiasaan membangun tempat ibadah di atas kubur orang-orang saleh dan memasang gambar-gambar di dalamnya. Jadi masjid tidak mempunyai gambar atau patung makhluk hidup, dan seni masjid beralih kepada pola dan tulisan sebagai gantinya.
“Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan apa yang terhormat di sisi Allah (Ḥurumāt), maka itu lebih baik baginya di sisi Tuhannya. Dan dihalalkan bagi kamu semua hewan ternak, kecuali yang diterangkan kepadamu (keharamannya), maka jauhilah (penyembahan) berhala-berhala yang najis itu dan jauhilah perkataan dusta. (Beribadahlah) dengan ikhlas kepada Allah, tanpa mempersekutukan-Nya. Barangsiapa mempersekutukan Allah, maka seakan-akan dia jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh.”
“Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman, “Wahai Isa putra Maryam! Engkaukah yang mengatakan kepada orang-orang, Jadikanlah aku dan ibuku sebagai dua Tuhan selain Allah?” (Isa) menjawab, “Maha Suci Engkau, tidak patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku. Jika aku pernah mengatakannya tentulah Engkau telah mengetahuinya. Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada-Mu. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Mengetahui segala yang gaib.” Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku (yaitu), “Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu,” dan aku menjadi saksi terhadap mereka, selama aku berada di tengah-tengah mereka. Maka setelah Engkau mewafatkan aku, Engkaulah yang mengawasi mereka. Dan Engkaulah Yang Maha Menyaksikan atas segala sesuatu.”
“Dan sebagian dari tanda-tanda kebesaran-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan. Janganlah bersujud kepada matahari dan jangan (pula) kepada bulan, tetapi bersujudlah kepada Allah yang menciptakannya, jika kamu hanya menyembah kepada-Nya.”
Aisyah meriwayatkan bahwa Ummu Habibah dan Ummu Salamah menceritakan kepada Nabi (ﷺ) sebuah gereja yang mereka lihat di Habasyah yang berisi gambar-gambar. Beliau bersabda bahwa bila seorang saleh di antara mereka wafat, mereka membangun tempat ibadah di atas kuburnya dan memasang gambar-gambar itu di dalamnya, dan bahwa mereka akan menjadi makhluk paling buruk di sisi Allah pada Hari Kiamat.
Apakah kaum Muslim sujud kepada Ka'bah?
Tidak. Kaum Muslim sujud hanya kepada Allah (﷾). Mereka menghadap Ka'bah karena Allah (﷾) menyuruh orang-orang beriman menghadapkan wajah mereka ke arah Masjidilharam di mana saja mereka berada (2:144). Hal ini membuat semua kaum Muslim salat menghadap satu arah. Al-Qur'an menyebut Ka'bah “rumah-Ku”, sebuah rumah yang dimuliakan sebagai milik Allah (﷾) dan dikhususkan untuk ibadah kepada-Nya. Ka'bah bukanlah tuhan. Allah (﷾) membuat perjanjian dengan Ibrahim dan Ismail untuk membersihkannya bagi orang-orang yang beribadah di sana (2:125). Al-Qur'an juga berkata, “bersujudlah kepada Allah” (41:37). Kaum Muslim tidak berdoa kepada Ka'bah. Ka'bah adalah sebuah bangunan, bukan rupa dari apa pun, demikian pula Hajar Aswad. Sebelum 2:144 kaum Muslim menghadap Yerusalem. Arah itu berubah karena Allah (﷾) memerintahkannya (2:142-144), bukan karena kuasa apa pun dalam sebuah bangunan. Umar, seorang sahabat Nabi (ﷺ) dan kemudian khalifah kedua, mencium Hajar Aswad. Ia berkata bahwa ia tahu batu itu adalah batu yang tidak dapat memberi mudarat maupun manfaat. Ia berkata bahwa ia menciumnya hanya karena ia melihat Nabi (ﷺ) menciumnya. Ibnu Hajar, seorang ulama hadis abad kelima belas, mengutip ath-Thabari, seorang ulama awal Al-Qur'an dan sejarah, untuk menjelaskan mengapa Umar berkata demikian. Umar tidak ingin ada orang yang mengira bahwa Batu itu mempunyai kuasa sendiri, sebagaimana kaum penyembah berhala meyakini berhala-berhala mereka.
“Kami melihat wajahmu (Muhammad) sering menengadah ke langit, maka akan Kami palingkan engkau ke kiblat yang engkau senangi. Maka hadapkanlah wajahmu ke arah Masjidilharam. Dan di mana saja engkau berada, hadapkanlah wajahmu ke arah itu. Dan sesungguhnya orang-orang yang diberi Kitab (Taurat dan Injil) tahu, bahwa (pemindahan kiblat) itu adalah kebenaran dari Tuhan mereka. Dan Allah tidak lengah terhadap apa yang mereka kerjakan.”
“Orang-orang yang kurang akal di antara manusia akan berkata, “Apakah yang memalingkan mereka (muslim) dari kiblat yang dahulu mereka (berkiblat) kepadanya?” Katakanlah (Muhammad), “Milik Allah-lah timur dan barat; Dia memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki ke jalan yang lurus.””
“Dan (ingatlah), ketika Kami menjadikan rumah (Ka'bah) tempat berkumpul dan tempat yang aman bagi manusia. Dan jadikanlah maqam Ibrahim itu tempat salat. Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail, “Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang tawaf, orang yang itikaf, orang yang rukuk dan orang yang sujud!””
“Dan sebagian dari tanda-tanda kebesaran-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan. Janganlah bersujud kepada matahari dan jangan (pula) kepada bulan, tetapi bersujudlah kepada Allah yang menciptakannya, jika kamu hanya menyembah kepada-Nya.”
Al-Bara' bin 'Azib meriwayatkan bahwa setelah tiba di Madinah Nabi (ﷺ) salat menghadap Yerusalem selama enam belas atau tujuh belas bulan, sampai arah kiblat dipindahkan ke Ka'bah.
Abis bin Rabi'ah meriwayatkan bahwa Umar mendatangi Hajar Aswad lalu menciumnya. Umar berkata bahwa ia tahu batu itu adalah batu yang tidak dapat memberi mudarat maupun manfaat, dan seandainya ia tidak melihat Nabi (ﷺ) menciumnya, ia tidak akan menciumnya.
Tentang kata-kata Umar kepada Hajar Aswad, Ibnu Hajar mengutip ath-Thabari: Umar mengatakan ini karena orang-orang baru saja meninggalkan penyembahan berhala. Ia khawatir orang-orang yang jahil akan mengira bahwa mengusap Batu itu adalah pengagungan terhadap batu-batu tertentu yang dilakukan bangsa Arab sebelum Islam. Ia ingin orang-orang tahu bahwa ia mengusapnya untuk mengikuti Nabi (ﷺ), bukan karena Batu itu memberi manfaat atau mudarat dengan sendirinya, sebagaimana diyakini kaum musyrik tentang berhala-berhala mereka. Syarah itu menambahkan bahwa kata-kata Umar membantah anggapan, yang dipegang sebagian orang jahil, bahwa Hajar Aswad mempunyai keistimewaan tersendiri.
Apakah umat Islam sujud hanya kepada Allah (﷾)?
Apakah mereka menghadap Ka'bah karena Allah (﷾) menetapkan arahnya?
Apakah mereka berdoa kepada Ka'bah?
Apakah Ka'bah, atau Hajar Aswad, merupakan rupa dari sesuatu?
Apakah Hajar Aswad mempunyai kekuatan sendiri?Umar berkata bahwa ia menciumnya hanya karena ia pernah melihat Nabi (ﷺ) menciumnya.
Butir demi butir
Katekismus Gereja Katolik, paragraf 2131-2132
Mengajarkan bahwa konsili ekumenis ketujuh, Nikea II pada tahun 787, menegakkan penghormatan ikon Kristus, Maria, para malaikat dan para kudus melawan kaum ikonoklas. Katekismus itu berpendapat bahwa penghormatan ini tidak melanggar perintah tentang berhala, karena hormat yang diberikan kepada sebuah gambar beralih kepada pribadi yang digambarkannya, dan itu adalah penghormatan yang khidmat, bukan penyembahan yang hanya layak bagi Allah.
Dikutip untuk
Orang Kristen tidak menyembah gambar. Mereka menghormatinya, dan hormat itu beralih kepada pribadi yang digambarkan.
Tanggapan
Perintah itu tidak hanya melarang menyembah gambar sebagai tuhan. Perintah itu melarang perbuatan itu sendiri: “Jangan sujud menyembah kepadanya”. Sujud kepada sebuah patung adalah perbuatan itu, apa pun sebutan yang diberikan kepadanya. Perbedaan antara penghormatan dan penyembahan tidak ada dalam perintah itu.
Kesimpulannya — Perintah itu melarang sujud kepada gambar, jadi mengganti nama sujud itu tidak membuatnya boleh.
Yohanes dari Damsyik, Apologia melawan mereka yang mencela gambar-gambar suci, bagian III
Membela ikon terhadap tuduhan bahwa ikon tidak alkitabiah, Yohanes bertanya di mana Perjanjian Lama atau Injil berbicara tentang Trinitas, kesehakikatan, satu Ketuhanan atau tiga pribadi dengan kata-kata itu, dan berargumen bahwa Gereja memegang banyak hal melalui tradisi yang tidak tertulis, gambar-gambar di antaranya.
Dikutip untuk
Ikon tidak disebut dalam Kitab Suci, tetapi kata Trinitas juga tidak. Gereja memegang ajaran-ajaran yang bertumpu pada tradisi, dan ikon juga bertumpu padanya.
Tanggapan
Kata seperti Trinitas menamai sebuah ajaran. Perintah itu menamai sebuah perbuatan dan melarangnya: “Jangan sujud menyembah kepadanya”. Tradisi tidak dapat bertentangan dengan apa yang dikatakan perintah itu dengan kata-kata yang jelas.
Kesimpulannya — Perintah itu menamai perbuatan sujud kepada gambar, jadi tradisi tidak dapat membatalkannya.
Keluaran 25:18 — Taurat (Torah), pasal 25, ayat 18
“Dan haruslah kaubuat dua kerub dari emas, kaubuat itu dari emas tempaan, pada kedua ujung tutup pendamaian itu.”
Dikutip untuk
Allah memerintahkan kerub-kerub dari emas pada tabut, jadi Allah tidak melarang semua gambar dalam ibadah.
Tanggapan
Keluaran 20:4 melarang membuat “rupa apa pun yang ada di langit di atas”. Keluaran 25:18 memerintahkan kerub-kerub dari emas, makhluk surgawi bersayap. Kerub-kerub itu berada di Ruang Mahakudus, tempat hanya imam besar masuk sekali setahun. Alkitab tidak mencatat seorang pun sujud kepada mereka atau berdoa kepada mereka. Perintah Allah (﷾) tentang benda-benda tertentu di tempat kudus-Nya bukanlah izin bagi manusia untuk membuat gambar mereka sendiri dan sujud kepadanya.
Kesimpulannya — Apa pun fungsi kerub-kerub itu, Alkitab tidak mencatat seorang pun sujud kepada mereka, jadi kerub-kerub itu tidak memberi dasar untuk berlutut di depan patung.
Bilangan 21:8-9 — Taurat (Torah), pasal 21, ayat 8-9
“Maka berfirmanlah Tuhan kepada Musa, Buatlah ular tedung, dan taruhlah itu pada sebuah tiang: maka setiap orang yang terpagut, jika ia melihatnya, akan tetap hidup. Lalu Musa membuat ular tembaga, dan menaruhnya pada sebuah tiang; maka jika seseorang dipagut ular, dan ia memandang kepada ular tembaga itu, tetaplah ia hidup.”
Dikutip untuk
Allah menyuruh Musa membuat ular tembaga, dan bangsa itu memandangnya lalu disembuhkan.
Tanggapan
Alkitab juga mencatat apa yang terjadi dengannya. Berabad-abad kemudian orang Israel membakar korban bagi ular itu. Raja Hizkia menghancurkannya. Ular itu menunjukkan bagaimana benda suci menjadi sasaran penyembahan.
Kesimpulannya — Alkitab sendiri mencatat bahwa ular itu dihancurkan begitu orang menyembahnya.
Kolose 1:15 — pasal 1, ayat 15
“Ia adalah gambar Allah yang tidak kelihatan, yang sulung dari segala ciptaan:”
Dikutip untuk
Kristus adalah gambar Allah yang tidak kelihatan. Karena Allah menjadi kelihatan dalam Kristus, Ia boleh digambarkan.
Tanggapan
Paulus, seorang misionaris Kristen abad pertama, menyebut Kristus sebuah gambar. Ia tidak menyuruh siapa pun melukisnya atau berlutut di depannya. Perjanjian Baru tidak memberikan gambaran tentang rupa Yesus, jadi setiap gambar-Nya adalah hasil bayangan. Dan Yesus sendiri mengarahkan seluruh penyembahan hanya kepada Allah (﷾), yang adalah Roh.
Kesimpulannya — Sebuah gelar bagi Kristus bukanlah perintah untuk membuat atau sujud kepada gambar-gambar-Nya.
Perspektif
Katolik dan Ortodoks
Gambar-gambar Kristus, Maria dan para kudus boleh dihormati. Hormat itu beralih kepada pribadi yang digambarkan, dan penghormatan ini bukanlah penyembahan yang menjadi hak Allah.
Konsili Nikea Kedua (787) membenarkan penghormatan ikon. Katekismus Katolik berpendapat bahwa hal ini tidak melanggar perintah tentang berhala.
Bantahan
Katekismus itu menyatakan ajaran Gereja. Perintah itu berkata, “Jangan sujud menyembah kepadanya”, dan perintah itu tidak memisahkan penghormatan dari penyembahan. Yesus mengarahkan seluruh penyembahan hanya kepada Allah (Matius 4:10).
Allah memerintahkan kerub-kerub dari emas dan ular tembaga. Orang Kristen memahami hal ini sebagai menunjukkan bahwa gambar boleh mempunyai tempat dalam ibadah.
Bantahan
Perintah Allah (﷾) tentang benda-benda tertentu di tempat kudus-Nya bukanlah izin bagi manusia untuk membuat gambar mereka sendiri dan sujud kepadanya. Alkitab tidak mencatat seorang pun sujud kepada kerub-kerub itu atau berdoa kepadanya. Israel kemudian membakar korban bagi ular tembaga itu, dan Raja Hizkia menghancurkannya (2 Raja-raja 18:4).
Perspektif Islam
Sujud di hadapan gambar apa pun melanggar perintah yang dibawa Musa, dan Yesus hanya menyembah Allah (﷾). Nabi (ﷺ) memperingatkan agar tidak memasang gambar di tempat-tempat ibadah yang dibangun di atas kubur, dan Islam menjaga ibadah bebas dari gambar.
Perintah tentang patung melarang baik membuat rupa maupun sujud menyembah kepadanya.
Israel tidak melihat sesuatu rupa Allah (﷾) di Horeb, dan karena itu dilarang membuat rupa apa pun.
Kitab Mazmur dan Yesaya mengecam sujud di hadapan benda-benda buatan tangan manusia.
Yesus mengarahkan seluruh penyembahan hanya kepada Allah (﷾) dan berdoa dengan wajah ke tanah di hadapan Allah (﷾). Ia tidak pernah digambarkan memakai sebuah gambar.
Sebagian gereja Protestan sendiri melarang gambar Allah (﷾) dan gambar di gereja.
Al-Qur'an mencatat bahwa Isa tidak pernah menyuruh siapa pun menyembah dia atau ibunya.
Kaum Muslim menghadap Ka'bah karena Allah (﷾) memerintahkan arah itu, dan mereka sujud hanya kepada Allah (﷾).
Umar berkata bahwa Hajar Aswad tidak dapat memberi mudarat maupun manfaat, dan menciumnya hanya karena Nabi (ﷺ) menciumnya.
Nabi (ﷺ) mengecam tempat-tempat ibadah yang dibangun di atas kubur orang-orang saleh dengan gambar-gambar di dalamnya.